Sasmita Negeri “PRABOWO vs JOKOWI”

Oleh : Tri Budi Marhaen Darmawan

Prabowo VS Jokowi

Selama kurun waktu 500 tahun semenjak kehancuran Majapahit dari bumi Nusantara yang sempat berjaya selama kurang lebih setengah abad dari 200 tahun perjalanannya, kini sosok mahluk Nusantara yang terlahir dari prakarsa Maha Patih Gajah Mada tengah menggeliat memasuki alam kesadarannya. Diibaratkan seperti baru saja terbangun dari tidurnya yang panjang terbuai frekuensi Alpha di alam ketidaksadaran. Satu dasawarsa berjalan dari titik dimulainya Pemilu Presiden secara terbuka oleh rakyat di tahun 2004, Nusantara mulai memasuki ranah frekuensi Beta dimana secara berangsur masuk dalam alam kesadaran awal walau belum sepenuhnya sadar. Di dalam periode itulah kita semua menyaksikan dan mengalami berbagai bencana alam dan kecelakaan berskala besar, yaitu diawali dengan bencana Tsunami Aceh, meletusnya gunung Merapi yang kemudian disusul dengan gempa Jogja, dan berikutnya muncul bencana semburan lumpur Lapindo di Sidoarjo yang masih terus berjalan dan masih menyisakan penderitaan bagi para korban hingga saat ini. Bencana-bencana lainpun terus menyusul seperti gempa Padang dan tsunami Mentawai, meletusnya kembali gunung Merapi yang banyak membawa korban termasuk mbah Marijan, tenggelamnya pesawat Adam air dan juga Kapal penumpang Senopati Nusantara yang hingga kini tak dapat diketemukan, jatuhnya pesawat Sukhoi di gunung Salak, serta serangkaian bencana lain hingga yang terakhir kemarin adalah meletusnya gunung Sinabung dan juga Kelud.

Semestinya kita semua tidak boleh melupakan segala kejadian itu. Karena secara metafisis ada rangkaian pesan dan hakekat di balik semua kejadian tersebut. Sejatinya kejadian alam itulah yang berulang-ulang membangunkan kesadaran kita dengan segala kejutannya. Tapi nampaknya kita semua masih dianggap belum sepenuhnya menyadari berbagai pesan yang tersirat di balik kejadian-kejadian itu. Tak ada hikmah apapun yang mampu dipetik, bahkan seringkali terlupakan setelah kejadian berlalu. Maka dengan adanya fenomena semua gunung-gunung dalam kondisi aktif di tataran nusantara ini mengisyarahkan bahwa alam akan masih terus mengingatkan kita semua, terutama para elite pemimpin. Karena pemimpin adalah representasi dari seluruh rakyatnya.

Aktivitas Gunung Sinabung yang kembali mengeluarkan semburan abu vulkanik di lihat dari Desa Tiga Pancur, Kabupaten Karo, Sumut, Selasa (5/11)Meletusnya gunung Sinabung di Sumatra Utara sejatinya merupakan rangkaian aksara dewa yaitu “Sing Nang Bang Ung”. Dalam tatanan Dewata Nawa Sanga, SING = Dewa Sangkara (barat laut), NANG = Dewa Maheswara (tenggara), BANG = Brahma (selatan), dan UNG = Wisnu (utara). Sehingga merupakan isyarah akan datangnya daya kesadaran yang membangunkan kekuatan jiwa raga yang akan membawa kemakmuran. Kekuatan kesadaran setelah mengingati kembali akan penciptaan awal termasuk menghormati kembali para leluhur nusantara (SING). Diiring dengan daya kasih sayang dengan wujud adanya prabawa yang mengembalikan kepada spirit yang murni yaitu kembali kepada jati diri (NANG). Daya yang akan menyucikan atau membersihkan untuk kemudian menciptakan suasana baru yang lebih bersih (BANG). Sehingga segala sesuatunya menjadi tertata dengan baik dan serasa mendapati hidup baru (UNG). Dan Sumatra Utara mengisyarahkan SOMA awaTaRA ring UTtARA yang merujuk kepada WISNU sebagai simbol “Wahyu” yang turun.

Maka ketika gunung Sinabung di titik barat laut nusantara meletus (lambang SING) yang arah laharnya seringkali mengarah ke arah tenggara, kemudian disusul gunung Kelud di Kediri Jawa Timur meletus (titik tenggara dari lokasi Sinabung). Hal ini merupakan isyarah sebagai hakekat NANG yaitu menyapu atau membersihkan diri untuk kembali kepada jati diri, kembali kepada asal muasal (wiwitaning/wetan/timur) Jawa sebagai hakekat penciptaan awal yaitu ingsun (Jiwa – Jawi – Jawa). Maka saat gunung Kelud meletus, yang paling parah terkena dampak hujan debu vulkaniknya adalah wilayah Jogja – Solo. Hal itu memberikan pesan berkaitan dengan gunung Merbabu – Merapi sebagai lambang hidupnya Api Brahma (BANG), yaitu daya penyucian dan penciptaan atau wilayah kidul (selatan) sebagai lambang Sirrullah. Di sinilah terdapat sandi “Tampak Siring”, yaitu Utara – Selatan. Utara adalah lambang Wujudullah (tampak) dan Selatan adalah lambang Sirullah (siring) yang bermakna bahwa yang Sirr (rahasia) akan mewujud (nampak). Di Selatan adalah posisi gunung Merbabu – Merapi, sedangkan di Utaranya adalah gunung Ungaran (wilayah Semarang). Semar adalah ANG (aksara Wisnu). Maka ketika Wisnu turun aksaranya adalah UNG. UNG arane (namanya). Sehingga sejatinya semua perlambang itu mengisyarahkan turunnya Semar atau Sang Sabdo Palon itu sebagai hakekat “Wahyu Keprabon (Wahyu Cakraningrat)”. Hal itu melambangkan bahwa seorang pemimpin yang hak dan amanah haruslah yang memiliki wahyu itu sehingga mampu mewujudkan Keselamatan dan Kesejahteraan bagi seluruh rakyat dan negara. Maka di malam Super Semar 11 Maret 2014 yang lalu gunung Selamet meletus memberikan tanda sebagai isyarah tentang itu. Karena Semar sejatinya adalah Guru Raja yang dilambangkan dengan para Ksatria Pandawa sebagai muridnya. Di dalam proses kenyataannya kita semua hanya akan bisa merasakan daya-dayanya yang muncul dalam kejadian-kejadian nyata berkaitan dengan situasi kepemimpinan nusantara dan kondisi negeri.

semar dan pandawa lima

Pasca pungkasan Pemilu Legislatif 9 April 2014 yang lalu, di saat ini kita baru saja menyaksikan ephoria para elite partai yang sibuk bermanuver menjajagi dalam pembentukan koalisi menjelang hajat Pemilu Presiden 9 Juli 2014 yang akan datang. Dari dimensi spirit “hakekat”, fenomena ini begitu sarat dengan perlambang berupa simbol dan asma yang juga menyiratkan isyarah sebagai rambu pergerakan “daya” yang mengandung “hakekat”. Tentu saja penulis memandang berdasarkan persepsi yang selaras dengan alur segala apa dan bagaimana yang telah penulis ungkapkan di dalam blog ini di dalam Menyibak Tabir Misteri Nusantara. Memandang kenyataan yang bersifat sunyata (kasunyatan) sebagai upaya memfisiskan dari yang bersifat metafisis dengan berpijak pada hakekat kawruh / ajaran / suluk / gama ketauhidan leluhur nusantara dan juga kenabian dalam perjalanan spiritual penulis. Sangat menarik bagi penulis untuk menyoroti fenomena yang begitu sarat dengan simbol yang ada di seputaran sosok capres Prabowo Subiyanto dan juga Jokowi dalam pergerakan langkah politiknya hingga telah dideklarasikannya pencalonan pasangan masing-masing bersama koalisi partai masing-masing. Pasangan capres / cawapres Prabowo – Hatta Rajasa yang diusung oleh partai Gerindra, PPP, PKS, PAN, PBB, dan Golkar, sementara di sisi lain pasangan Jokowi – Jusuf Kalla diusung oleh PDIP, Nasdem, PKB, dan Hanura.

Sementara itu penulis telah mengungkapkan tentang isyarah hilangnya pesawat “Adam” Air dan juga Kapal penumpang “Senopati Nusantara” dalam “Kontemplasi Nusantara” yang menyiratkan bahwa kita harus kembali kepada Kesejatian Diri (Adam). Karena bangsa ini telah meninggalkan kesejatian diri maka jiwa-jiwa Senopati Nusantara (ksatria) pun telah sirna. Maknanya bangsa ini membutuhkan sosok pemimpin yang Adam, yang Sejati, atau dengan kata lain sebagai isyarah akan munculnya pemimpin yang sejati yang akan mampu memberikan teladan dan mengembalikan jiwa-jiwa Senopati Nusantara. Ibarat hakekat perjalanan Mi’raj yang dilakukan oleh Muhammad Rasulullah dimana sebagai lambang kesadaran untuk menuju kepada Allah awalnya melewati langit pertama yang dijaga Nabi Adam. Adam tanpa Hawa, bermakna kembali kepada genesis (awal mula penciptaan) yaitu kembali kepada kesejatian tanpa hawa nafsu yang seringkali mudah terbujuk oleh bujuk rayu setan iblis. Perlambang inilah yang pada kenyataannya sedang kita hadapi saat ini yaitu dengan munculnya sosok capres yang bernama Joko Widodo atau dikenal dengan Jokowi. Kalau menurut plesetan orang jawa dikatakan : “Yo sing Joko kuwi..”. Joko berarti sejati, atau sama maknanya dengan Jejaka / Perjaka yang mengandung arti masih lajang belum memiliki pendamping sosok hawa. Namun di sisi lain sosok capres lainnya yang bernama Prabowo Subiyanto dalam kenyataannya memang benar-benar sendiri (single) sebagai lambang Adam tanpa Hawa. Maka seseorang yang telah mencapai kesejatian (Adam) dipastikan bersifat ksatria (berani, jujur, tegas, dan bijaksana). Ksatria dalam arti karena terdedikasi memiliki keberanian dalam berperang melawan dirinya sendiri yaitu melawan hawa-hawa nafsunya. Sekarang tinggal manakah yang “Sejati” diantara dua sosok capres tersebut ? Tentu masing-masing pembaca memiliki penilaiannya sendiri.

Setelah Jokowi dideklarasikan sebagai capres oleh PDIP, partai yang pertama kali merapat sebagai mitra koalisi adalah Nasdem dengan ketua umumnya adalah Surya Paloh. Penulis melihat nama Surya Paloh adalah melambangkan pusaka SURYA PANULUH (SP) milik Gajah Mada yang dihunus ketika mengucap Sumpah Amukti Palapa. Hanya saja persoalannya di tangan Jokowi pusaka ini berdaya paNAS aDEM atau membuat suasana menjadi panas – dingin. Maka jika sebuah pusaka itu hak dan sesuai dengan pemegangnya, biasanya akan menciptakan suasana adem atau tenang bagi si pemegang pusaka. Namun jika tidak sesuai maka suasana panas yang akan muncul dan sangat berpengaruh bagi pemegangnya dan juga lingkungannya. Selanjutnya setelah PKB bergabung dalam koalisi, kemudian akhirnya disusul oleh HANURA dengan ketua umumnya adalah Wiranto. Sehingga bagi Jokowi dengan simbol dan perlambang itu digambarkan sebagai Satria Wirang. Purna sudah pada fase ini setelah ditetapkan pasangannya sebagai cawapres yaitu Jusuf Kala.

JKW4P JK4WP

Seperti apa yang telah diungkapkan di dalam tulisan “Menuju Jaman Baru”, bahwa saat ini ke depan dalam hal kepemimpinan nusantara masih berada di wilayah Satria Boyong Pambukaning Gapura. Berikut kutipannya : “Seperti telah diurai dalam blog ini mengenai ramalan 7 (tujuh) Satria Piningit yang bakal memimpin NKRI, saat ini kita berada pada masa Satria Piningit ke 6 (enam) yaitu Satria Boyong Pambukaning Gapura. Dalam Serat Musarar Jayabaya, kita sekarang berada pada masa “Tan kober apepaes tan tinolih sinjang kemben” yakni lambang pemimpin yang tak sempat mengatur negara karena direpotkan dengan berbagai masalah. Hingga digambarkan banyak terjadi bencana dan musibah, negara dikatakan rusak dan hukum tidak karu-karuan, dan sebagainya. Segala situasi yang terjadi disebabkan karena bangsa ini tengah berada di puncak degradasi moral yang sangat parah. Nampaknya sejauh ini Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono/SBY sebagai Satria BoYong tidak mampu membuka “Gapura” sebagai prasyarat bagi Kejayaan Nusantara. Sehingga dari dimensi spiritual misteri Nusantara, fase ini harus digenapi.”

Hal lain lagi diungkapkan : “Isyarah tentang “Kebangkitan Majapahit” di balik fenomena Semburan Lumpur Lapindo di Sidoarjo bukanlah berarti bahwa kita akan kembali ke era kerajaan seperti dahulu kala. Namun dari kacamata hakekat mengandung makna bahwa negeri ini akan menjadi sejahtera (Sidoarjo), untuk itu semua kekotoran yang terpendam selama ini karena sengaja ditutupi, akan ditumpas habis. Dan daya semesta akan berjalan selaras dengan itu, sehingga tak ada seorang manusiapun yang mampu menghalangi. Daya Kebangkitan Majapahit sebagai perlambang yang akan mampu merubah segala carut marut yang terjadi kurun waktu ini. Hal ini mengandung makna bahwa jika kita ingin kembali mengobarkan semangat MAJAPAHIT, tentu kita semua harus MAu JAlan PAHIT. Dan untuk bisa MAju dan JAya maka harus berani PAHIT. Merajut kembali Nusantara, berarti harus kembali merajut Majapahit, yaitu menghubungkan kembali secara hakekat mata rantai yang terputus (missing link). Keberadaan Majapahit terakhir adalah Majapahit di Daha di bawah pemerintahan Girindrawardhana (Dyah Ranawijaya) tahun 1486 – 1527 yang memiliki ayah bernama Suraprabawa (Singhawikramawardhana), memerintah tahun 1466 – 1474. Inilah isyarah di balik fenomena Semburan Lumpur Lapindo yang ada di wilayah Daha di masa lalu, jika kita kaitkan dengan masalah kepemimpinan nasional. Kata sandinya adalah GIRINDRAwardhana yang memiliki bapak SuraPRABAWA. Girindra berarti Raja Gunung atau bermakna sangat kokoh dan kuat, sedangkan Wardhana bermakna anugerah dari Sang Pencipta atau yang menyebabkan berlebih. Sura berarti orang yang kuat memahami yang nyata dan tak nyata (fisik dan metafisik), sedangkan Prabawa bermakna pancaran kewibawaan atau kharismatik. Jangan memandang ungkapan ini secara syari’at atau lahiriah yang tertulis, namun hakekat karakter pemimpin inilah yang dibutuhkan negeri ini yang akan mampu membersihkan “kekotoran” negeri ini. Mampu menjadi LAPINDO yang bermakna LAP adalah kain pembersih atau Alap-Alap (penyikat) INDOnesia, sehingga mampu membersihkan dari segala yang kotor. Karakter pemimpin inilah yang dibutuhkan negeri ini ke depan sehingga mampu membawa bangsa ini kembali memasuki Gapura Mas menuju Kejayaan Nusantara seperti yang telah dirintis oleh Gajah Mada Maha Patih Majapahit ketika itu. Siapapun sosok itu dan siapapun namanya.. Dari Majapahit kembali menuju Pajajaran, yang pada akhirnya terwujud situasi yang sejajar diantara keberagaman yang ada. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Tak ada diskriminasi antara satu dengan yang lainnya dengan nafas saling menghormati, beradab dan berkeadilan.”

Prabowo Hatta

Inisial Satria Boyong Pambukaning Gapura yaitu SBYPG sangatlah identik dengan nama SuBiYanto Prabowo Gerindra. Banyak hakekat yang menarik dari munculnya simbol-simbol sepanjang proses koalisi partai-partai yang mendukung pencapresan Prabowo Subiyanto yang diusung oleh Gerindra. Karena segala kejadian di dalam sebuah proses adalah merupakan isyarah itu sendiri yang mengandung hikmah. Untuk pertama kalinya PPP dengan ketua umumnya Surya Dharma Ali merapat berkoalisi mendukung Prabowo setelah harus melalui perdebatan sengit di internal PPP. Keteguhan hati Seorang Surya Dharma Ali didalam mempertahankan kebenarannya pada akhirnya diamini segenap organ internal PPP dan membuahkan legitimasi formal tetap mendukung Prabowo. Gerindra dengan lambang Garuda bertemu dengan PPP berlambang Ka’bah. Penulis melihat simbol ini sebagai isyarah istimewa tentang kepemimpinan masa depan yang akan muncul setelah melalui era Satrio Boyong Pambukaning Gapuro dengan perlambang “Tunjung Putih semune Pudhak Kesungsang”, yaitu pemimpin yang berhati bersih namun masih tersembunyi. Dikatakan bahwa pemimpin tersebut “Kadhatone pan kekalih, Ing Mekah ingkang satunggal, Tanah Jawi kang sawiji” (Kedhatonnya ada dua, di Mekah yang satu, dan satunya lagi Tanah Jawi). Tanah Jawi adalah Nusantara yang dilambangkan dengan Garuda dan Mekah yang dilambangkan dengan Ka’bah. Sinergisitas hakekat kedua simbol tersebut memiliki daya Prabawa – Surya Dharma Ali, yang bermakna sebagai kekuatan cahaya penerang atau pencerahan dalam pelaksanaan dharma (jalan kebenaran) seperti halnya yang diteladani oleh Sayiddina Ali salah seorang sahabat Rasulullah Muhammad SAW. Kemudian bergabunglah PAN dengan ketua umumnya Hatta Rajasa sebagai simbol datangnya Matahari itu yang memberikan cahaya terang atau sebagai simbol turunnya Amanah Nasional kepada Prabowo. RA-jasa bermakna Matahari yang berjasa. RA = Matahari. Atau Raja-SA, SA adalah aksara dewa dari Iswara atau Dewa Surya itu sendiri di titik Timur yang menjadi Raja (pemimpin). Hakekatnya adalah pemimpin yang memiliki sifat seperti Matahari, mencerahkan karena mengerti segala persoalan dengan terang benderang dan bersifat adil serta konsisten. Sehingga dengan ditetapkannya Prabowo – Hatta Rajasa sebagai capres dan cawapres, maka memiliki makna bahwa Prabowo – Hatta Rajasa adalah ibarat Matahari dan cahayanya bagi rakyat negeri ini ke depan. Berikutnya barulah kemudian PKS bergabung sebagai simbol datangnya Keadilan dan Kesejahteraan setelah segala sesuatunya terang benderang karena pencerahan. Ketiga partai berbasis Islam itu kemudian disahkan dan distempel oleh PBB dengan simbolnya Bulan Bintang sebagai lambang Islam yang satu. Ibarat bulan dan bintang pun mencari cahayanya yang bersumber dari Matahari. Sehingga lengkaplah segala sesuatunya dilambangkan pertemuan Matahari, Bulan dan Bintang dengan adanya persatuan. Dan berikutnya pada detik-detik terakhir menjelang deklarasi Prabowo – Hatta Rajasa, Golkar yang bersimbol pohon beringin pun secara tidak terduga-duga ikut bergabung dalam koalisi sebagai lambang pemberian legitimasi bahwa ”persatuan” itulah yang diharapkan sebagai prasyarat tercapainya keadilan dan kesejahteraan rakyat. Sebuah simbol yang luar biasa hebatnya. Diibaratkan empat madzab Islam di Nusantara bersatu dalam naungan Garuda (Pancasila) sebagai ideologi NKRI. Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa = Berbeda-beda namun tetap satu, tiada kebenaran yang mendua.

suryamajapahitgold (1)

Bagi penulis yang selama kurun waktu 10 tahun ini menjalani perjalanan spiritual menembusi misteri nusantara, menganggap sangat pentingnya simbol ”Matahari”. Karena hakekat Matahari yang disebut dengan RA itulah yang harusnya kita tuju. RA inilah yang diperlambangkan oleh leluhur kita dengan istilah ”Ratu Adil” yang sangat lekat ketika kita berbicara tentang Satria Piningit, pemimpin sejati yang dinanti-nanti. Dalam konteks ini sesungguhnya semua presiden NKRI dari yang pertama hingga yang sekarang pun adalah Satria Piningit. Karena sebelum mereka menjadi presiden, kita semua tidak mengetahuinya. Sama artinya seperti yang akan menjadi Presiden NKRI 2014 – 2019 nantinya pun kita belum bisa mengetahuinya walaupun saat sekarang ini sudah terlihat semakin mengerucut. Sehingga siapapun yang menjadi Presiden nantinya dia adalah seorang mantan Satria Piningit. Karena sudah tidak Piningit (tersembunyi) lagi. Sudah muncul dan di ketahui oleh banyak orang. Hanya saja kita akan selalu menanti yang terbaik yang benar-benar bisa menyejahterakan seluruh rakyat, memakmurkan negeri ini dan memimpin bangsa dengan adil dan bijaksana. Bagi yang meyakini dalam hal kehadiran Satria Piningit dengan pijakan wasiat leluhur nusantara pun sesungguhnya hanya mampu meraba untuk mengenali situasi keadaan jaman dengan perlambang kepemimpinannya, yang lebih dalam akan mengenali sandi-sandinya. Semua itu bagi yang memiliki kesadaran spiritual dimaksudkan agar supaya tidak terjebak dalam tipu daya kehidupan, untuk senantiasa tetap Eling dan Waspada. Apalagi yang umum terjadi banyak yang terjebak dengan mengaku-aku sebagai Satria Piningit ataupun Ratu Adil dengan segala versinya. Padahal sejatinya diri kita semua adalah Satria Piningit. Untuk melakukan perjalanan menemukan jati diri kita yaitu jiwa yang piningit itu dibutuhkan sifat ksatria, karena harus terus menerus berperang melawan nafsu-nafsu yang ada di dalam diri dan pantang khianat. Dan jiwa itulah Matahari yang ada di dalam setiap diri manusia. RA itulah yang kita tuju. RA itu sejatinya adalah ”Ridho Allah.” Illahi anta maqsudi wa ridhoka mathlubi (tujuanku hanya Allah, dan yang kucari hanyalah Ridho Allah semata). Dengan menggapai MATAHARI itulah kita akan memahami MA’rifat (mengenali) – TArekat (menjalani) – HAkekat (kebenaran sejati) – RIdho Allah (MA-TA-HA-RI). Dan kemudian akan berjalan dengan kepatuhan mengikuti tuntunan cahaya MATAHARI, yang juga sejatinya adalah MAta HAti dalam diRI. Tentu saja semua itu dilandasi dengan pondasi Syari’at yang tak perlu diperdebatkan lagi. Akhirnya ”Ridho Allah” itulah yang ingin kita gapai dimana sebagai ”RATU ADIL” pada diri kita yang berkuasa, yaitu RAsa yang saTU dalam mengemban Amanah mengabDI secara Langgeng (istiqomah) kepada Allah. Inilah perjalanan yang harus kita tempuh di dalam ”Jagad Cilik” kita sebagai manusia untuk menggapai RA itu. Sedangkan untuk ”Jagad Gede” negeri kita pun sejatinya berorientasi sama akhir yang dituju adalah RA (Ridho Allah), yaitu melalui simbol-simbol BendeRA – NagaRA – NusantaRA. Dimaksudkan bahwa segala sesuatu yang diupayakan dan kemudian mendapatkan Ridho Allah akan selalu membuahkan kemanfaatan, keselamatan, kesejahteraan dan kebahagiaan.

Nah saat ini, kembali kita dihadapkan kepada pilihan di dalam menentukan calon pemimpin negeri yang kita cintai ini untuk masa 2014 – 2019. Manakah diantara kedua pasangan itu yang sejati secara HAKekat agar tidak lagi terjebak tipu daya pencitraannya ? Tentu selain ungkapan di atas, penulis perlu mengungkapkan isyarah ketika gunung Merapi meletus di bulan Nopember 2010, yaitu dengan adanya fenomena awan berbentuk kepala Petruk. Itu hakekatnya adalah isyarah yang memberikan merapipetrukgambaran bahwa kita semua akan dihadapkan dengan kemungkinan munculnya fenomena “PETRUK JADI RATU”. Dan isyarah itu sejatinya berkaitan dengan perlambang fenomena mbah Marijan dimana saat pertama kali  gunung Merapi meletus di bulan Mei 2006 membuat namanya melambung bak pahlawan / selebritis. Namun pada letusan berikutnya di bulan Oktober 2010 pada akhirnya mengakibatkan mbah Marijan sendiri menjadi salah satu korban yang ditemukan tewas mengenaskan di dalam rumahnya diantara banyak korban lainnya di desa Cangkringan utamanya. Di dalam cerita pewayangan (carangan) “Petruk Jadi Ratu”, singkat cerita pada akhirnya yang mampu mengetahui dan menghentikan penyamaran Petruk sebagai Prabu Bel Gedhuwel Beh adalah Semar. Maka ada istilah bahasa jawa kasar dengan ungkapan : “Wal keduwal kabeh, singgat kadal diuntal”, yang maknanya sebagai umpatan bahwa “semuanya penipu/pembohong semua sampai-sampai belatung kadal pun dimakan”. Silahkan bertanya kepada Eyang Google bagaimana isi cerita “Petruk Dadi Ratu atau Petruk Jadi Ratu” untuk kemudian menjadi perenungan bagi pembaca semua.

SingNangBangUng-#2a-Cover

Isyarah lain yang mungkin lepas dari perhatian kita semua adalah fenomena dibersihkannya Tugu MONAS pada tgl 5 Mei s/d 18 Mei 2014 di tengah ephoria aktivitas partai-partai mencari mitra koalisi. Sehingga ketika MONAS selesai dibersihkan, barulah kedua pasangan capres/cawapres mendeklarasikan pencalonannya masing-masing bersama partai koalisinya. Jadi daya-daya yang ada mengisyarahkan bahwa semuanya saja harus menghormati MONAS dahulu hingga tuntas dibersihkan untuk menyongsong Kebangkitan Nasional 20 Mei 2014. Maka kalau kita melihat peristiwa pendeklarasian semua capres/cawapres beberapa waktu yang lalu sangat sarat dengan nuansa aura Soekarno. Namun semua ini bukan kebetulan, karena dari dimensi spiritual daya-daya beliau sudah mulai “turun”. Persoalannya sama saja, kita dihadapkan kepada pertanyaan manakah diantaranya yang sejati ? Dalam konteks ini penulis hanya mampu mengungkapkan bahwa jika seandainya mereka dan semua saja memahami Soekarno, tentu akan tahu bahwa MONAS bukan hanya sekedar monumen. Namun lebih dalam daripada itu sejatinya MONAS adalah sebuah Simbol/Sandi Utama Nusantara (SUN) yang sarat dengan sandi rumit yang didirikan Soekarno dengan segala maksud dan harapannya untuk negeri ini yang belum sempat beliau ungkapkan kepada siapapun. Hal ini sangat logis karena ketika pembangunan Tugu MONAS belum selesai tanpa diduga muncullah peristiwa Gestapu tahun 1965. MONAS adalah sandi Tampak Siring bagi Nusantara. Jadi sesungguhnya bagi siapa saja yang merusak atau mengganti simbol-simbol di seputaran MONAS termasuk bangunan bersejarah di seputarnya bahkan nama jalannya sekalipun, bisa dipastikan bahwa mereka sangat tidak memahami maksud Soekarno. Apakah kita semua tersadar bahwa saat ini ada pihak-pihak yang sedang ingin menghancurkan MONAS sebagai sebuah simbol yang memiliki Hakekat sangat tinggi ? Buktinya di seputaran taman MONAS telah didirikan banyak patung Bunga Bangkai. Hal itu adalah sebagai simbol bagi upaya pembangkaian dan pembusukan MONAS. Dan apakah kita pernah berpikir dan merenung, begitu MONAS dibersihkan serta merta ramailah pemberitaan merebaknya Virus MERS dari tanah Arab yang berasal dari Onta. Tentu ini adalah isyarah yang sangat berkaitan erat dengan apa yang telah penulis ungkapkan di atas bila dijabarkan. Penulis tidak mampu berkata lebih di dalam blog ini. Semoga apa yang penulis ungkapkan kali ini membawa manfaat dan menjadi perenungan bagi kita semua di dalam upaya kita bersama menggapai Ridho Allah.

Salam MERAH PUTIH..

JAYALAH NEGERIKU, TEGAKLAH GARUDAKU,

JAYALAH NUSANTARAKU…

monas

QS 13 (Ar Ra’d) : 18 -25
18. Bagi orang-orang yang memenuhi seruan Tuhannya, (disediakan) pembalasan yang baik. Dan orang-orang yang tidak memenuhi seruan Tuhan, sekiranya mereka mempunyai semua (kekayaan) yang ada di bumi dan (ditambah) sebanyak isi bumi itu lagi besertanya, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan kekayaan itu. Orang-orang itu disediakan baginya hisab yang buruk dan tempat kediaman mereka ialah Jahanam dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman.
19. Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran,
20. (yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian,
21. dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.
22. Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik),
23. (yaitu) syurga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu;
24. (sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.
25. Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam).

Semarang, Jum’at Pahing (Dungulan) – 23 Mei 2014

Published in: on Mei 23, 2014 at 3:00 am  Komentar Dimatikan  

Menuju Jaman Baru Bagi Kejayaan Nusantara

Oleh : Tri Budi Marhaen Darmawan

Pasti kita semua masih ingat dimana saat meninggalnya Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih pada Rabu, 2 Mei 2012. Sejatinya kejadian itu adalah merupakan “sasmita” bagi negeri ini sebagai isyarah berkaitan dengan perlambang sesaji jaman seperti yang tertulis di dalam Serat Musarar Jayabaya. Perlambang sesaji yang ditunjukkan Ki Ajar kepada Prabu Jayabaya di gunung Padang, yang membuat pada akhirnya Prabu Jayabaya membunuh Ki Ajar dan seorang Endang (perempuan) si pembawa ketujuh sesaji itu. Ternyata ketujuh sesaji dan Endang nya (kedelapan) merupakan perlambang jaman-jaman yang akan muncul ketika itu, yaitu :

  1. KUNIR sarimpang – sebagai lambang kerajaan PAJAJARAN, dengan lambang negaranya : Sumilir naga kentir semune liman pepeka.
  2. JADAH setakir – sebagai lambang kerajaan MAJAPAHIT, dengan lambang negaranya : Sima galak semune curiga ketul.
  3. MELATI sebungkus – sebagai lambang kerajaan DEMAK, dengan lambang negaranya : Kekesahan durung kongsi kaselak kampuhe bedah.
  4. Sebatang pohon KAJAR – sebagai lambang kerajaan PAJANG, dengan lambang negaranya : Cangkrama putung watange.
  5. BAWANG PUTIH satu talam – sebagai lambang kerajaan MATARAM, dengan lambang negaranya : Sura kalpa semune lintang sinipat.
  6. DARAH sepitrah – sebagai lambang era SOEKARNO, dengan lambang : Lung gadung roro nglikasi, dan lambang era SOEHARTO, dengan lambang : Gajah meta semune tengu lelaki.
  7. ENDANG seorang perempuan pembawa sesaji – sebagai lambang era GUS DUR – MEGAWATI, dengan lambang : Panji loro semune Pajang Mataram, lambang era MEGAWATI, dengan lambang : Roro ngangsu rondo loro nututi pijer tetukar, dan lambang era SUSILO BAMBANG YUDHOYONO (SBY), dengan lambang : Tan kober pepaes tan tinolih sinjang kemben.
  8. Kembang SERUNI – sebagai lambang jaman baru yang akan datang, dengan lambang : Tunjung Putih semune pudak kesungsang.

ENDANG dalam hal ini dilambangkan sebagai “Hawa” (sifat perempuan). Maknanya di era dengan perlambang Panji loro semune Pajang Mataram (Gus Dur – Megawati) hingga Tan kober pepaes tan tinolih sinjang kemben (SBY), bangsa ini terutama para pemimpinnya terjebak berorientasi pada hawa nafsu (kadunyan/keduniawian). Sehingga lambang Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih memberikan isyarah bahwa bangsa ini sedang “sakit parah” (tak ada kesehatan). Sudah tak ada lagi hawa (rasa) kesetiaan kepada Tuhan Yang Maha Kasih sehingga tak ada rasa kasih lagi diantara sesama dan bahkan jauh ditinggalkan oleh Rahayu (hidup selamat).

Beberapa waktu kemudian kita semua digemparkan oleh jatuhnya pesawat SUKHOI SJJ 100 buatan Rusia di kaki Gunung Salak tepatnya di Kampung Batu Tapak, Cidahu, Bogor pada Rabu, 9 Mei 2012. SUKHOI yang dalam bahasa Rusia berarti “kering” (dry) memberikan isyarah kepada kita semua bahwa segala sesuatu yang datang dari Barat (dari luar Nusantara) yang membuat keringnya batin bangsa ini akan hancur jika kita mampu kembali kepada leluhur (adat budaya dan ajarannya). Gunung sebagai lambang diri manusia dan Salak (Salaka) mengingatkan kita kepada awal mula (wiwitan) keberadaan bangsa ini sebagai anak cucu leluhur Nusantara yang mana kita semua diingatkan pada Salakanagara (jaman Aki Tirem/Aki Luhur Mulia sebelum keberadaan kerajaan Tarumanagara). Kekeringan batin bangsa ini telah dilambangkan dengan kejadian meletusnya gunung Merapi jauh sebelum ini yang membawa korban mbah Marijan yang bermakna MAtinya Rasa dan Iman wong JAwaN (orang Jawa yang kehilangan atau melupakan Jawa nya). Kini sudah saatnya kita semua harus kembali pada “kesadaran” untuk kembali kepada leluhur kita sendiri, kembali pada adat budaya dan ajaran leluhur kita yang adiluhung.

Gunung Gamalama di Maluku pun telah memberikan isyarah bahwa agar bangsa ini bisa kembali memiliki rasa “malu” maka harus kembali pada Gama (ajaran/sesuluk) Lama atau ajaran leluhur Nusantara. Ingatlah bahwa “Negara Kerta Gama” yang bermakna bahwa Negara akan Berjaya (sejahtera sentosa) bila berlandaskan Gama. Dari dimensi spiritual peristiwa jatuhnya pesawat Sukhoi ini memberikan arah tanda panah untuk kita semua mengingati dan merenungkan tentang Siloka (Salak/Salaka) Batu Tapak Bogor (Purnawarman). Ada maksud dan jawaban di balik Siloka tersebut yang tertulis : “Vikkranta Syayani Pateh Srimatah Purnawarmanah Tarumanagarendrasya Visnoriva Padadvayam” (Ini (bekas) dua kaki yang seperti kaki Dewa Wisnu ialah kaki yang mulia Sang Purnawarman raja di negeri Taruma yang gagah berani di dunia). Beliau Maha Raja Tarumanegara itu bergelar : Sri Baginda Maha Raja Purnawarman Bima Prakarma Sang Iswara Surya Maha Purusa Jagat Pati / Raja Resi Dewa Raja Putra Suraliman Sakti Alexandra Agung (317 M). Menarik untuk menjadi perenungan kita semua tentang kebesaran dan keagungan beliau Purnawarman dengan segala hakekatnya yang mengandung sandi-sandi spiritual untuk masa kini.

Rabu, tanggal 6 Juni 2012 merupakan moment yang istimewa karena bertepatan dengan hari kelahiran Soekarno (Presiden RI pertama) yang ke 111, ditandai dengan gerhana Venus yang transit setiap 117 tahun. Ini merupakan pertanda masa peralihan perubahan jaman, yaitu dari jaman Kalabendu (banyak musibah/bencana) beralih memasuki jaman Kalasuba (kejayaan/keemasan). Masa transisi ini diisyarahkan dengan akan munculnya keadaan dan situasi negeri yang penuh kesulitan atau kesukaran (Sukar-ono). Bukan kebetulan masa transisi ini ditandai pula dengan masa menjelang pergantian kepemimpinan NKRI (2012 – 2014). Isyarah hari kelahiran Soekarno, merupakan perlambang akan munculnya pemimpin kharismatik yang akan mampu menjawab tantangan dari segala persoalan bangsa selama ini guna pada akhirnya akan menghantarkan negeri ini menuju pada Kejayaan Nusantara.

Seperti telah diurai dalam blog ini mengenai ramalan 7 (tujuh) Satria Piningit yang bakal memimpin NKRI, saat ini kita berada pada masa Satria Piningit ke 6 (enam) yaitu Satria Boyong Pambukaning Gapura. Dalam Serat Musarar Jayabaya, kita sekarang berada pada masa “Tan kober apepaes tan tinolih sinjang kemben” yakni lambang pemimpin yang tak sempat mengatur negara karena direpotkan dengan berbagai masalah. Hingga digambarkan banyak terjadi bencana dan musibah, negara dikatakan rusak dan hukum tidak karu-karuan, dan sebagainya. Segala situasi yang terjadi disebabkan karena bangsa ini tengah berada di puncak degradasi moral yang sangat parah. Nampaknya sejauh ini Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono/SBY sebagai Satria BoYong tidak mampu membuka “Gapura” sebagai prasyarat bagi Kejayaan Nusantara. Sehingga dari dimensi spiritual misteri Nusantara, fase ini harus digenapi. Tentu kita semua akan bertanya apa yang dimaksud dengan membuka “Gapura” dalam konteks ini ? Pertanyaan ini hanya bisa dijelaskan dengan uraian apa, bagaimana dan mengapa tentang maksud di balik Surat Terbuka kepada SBY di awal Semburan Lumpur Lapindo di bulan Agustus tahun 2006 yang lalu.

Seperti yang tertulis di dalam Surat Terbuka kepada SBY, bahwa sejatinya Semburan Lumpur Lapindo adalah merupakan perlambang atau isyarah munculnya daya “Kebangkitan Majapahit”. Fenomena ini memiliki berbagai lapisan hakekat yang mengandung pesan bagi bangsa khususnya pemimpin negeri ini. Beberapa hakekat diantaranya adalah bahwa fenomena tersebut merupakan peringatan yang memberikan pesan, sebenarnya wilayah semburan lumpur adalah wilayah “suci” (kabuyutan) peninggalan leluhur. Dimana di lokasi itu sebenarnya terdapat situs “Candi Pradah” yang telah hancur, yang dibuat oleh Mpu Baradah setelah membagi wilayah Daha dan Jenggala di jaman Prabu Airlangga dengan tanda pemisahnya adalah sungai Porong (diparo/diporo = dibagi). Wilayah semburan lumpur itu sendiri berada di wilayah Daha. Isyarah ini melambangkan bahwa kurun waktu selama ini, bangsa ini yang dilambangkan para pemimpinnya telah merusak kesuciannya sendiri. Sehingga fenomena semburan lumpur menyiratkan sudah saatnya “kekotoran hati” yang selama ini ditutup-tutupi mau tidak mau harus terbuka dan ada saat tak ada lagi yang mampu membendungnya.

Hal lain yang teramat penting adalah bahwa sejatinya di tempat itulah Maha Patih Gajah Mada melakukan upaya “ruwatan” akibat kejadian Perang Bubat yang menimbulkan kutukan. Upaya meruwat tersebut dimaksudkan untuk tetap mempertahankan wilayah Nusantara yang telah disatukannya walaupun kurun waktu kemudian kerajaan Majapahit akhirnya harus hancur. Dengan mencuatnya semburan lumpur di wilayah Sidoarjo itu adalah merupakan tanda pula yang mengandung amanah bahwa pemimpin negeri ini diharuskan membangun dan menggelar 5 (lima) “Candi” di berbagai tempat yang telah ditentukan. Kelima Candi tersebut sejatinya adalah wujud dari 5 (lima) Kedhaton Pajajaran, yaitu : Sri Bima (Pasundan) – Punta (Sumatera) – Narayana (Jawa Pawatan) – Madura (Madura) – Suradipati (Nusa Paneda). Amanah ini mengandung spirit “Semangat Penyatuan Majapahit – Pajajaran”, karena sejatinya Pajajaran (Sunda Galuh) adalah leluhur tua dari Majapahit. Upaya ini sebagai tindakan meruwat dan melukat tataran Nusantara seisinya sekaligus wujud nyata bagi “pemutihan” Perang Bubat, dengan sandi spiritual : Kembang SERUNI. Persembahan Kembang SERUNI inilah merupakan prasyarat memasuki jaman baru (Kalasuba) bagi terwujudnya Kejayaan Nusantara.

Untuk kesekian kalinya agar bangsa ini tak keliru memandang keberadaan “Candi” yang telah menjadi stigma leluhur Nusantara, maka sejatinya Candi adalah sebuah “tetenger” (simbol tanda) yang sarat dengan hakekat nyata maupun tak nyata (kegaiban) yang diartikan dalam makna keterkinian adalah sebagai “wawaCAN Diri” (bacaan diri). Lambang CanDi dari kacamata tassawuf bermakna : “man arofa nafsahu faqad arofa robbahu” (mengenal diri (segala nafsu) maka mengenal Allah). Jadi Candi bukanlah tempat ibadah bagi golongan agama atau kepercayaan tertentu, namun merupakan wahana universal bagi upaya penempuhan spiritualitas yang dimaksudkan guna pencapaian peningkatan kesadaran jiwa manusia. Candi adalah sama hakekatnya dengan Piramid. Keberadaan Candi pada masanya masing-masing diperuntukkan bagi perlindungan, keselamatan dan kesejahteraan kerajaan dan rakyatnya. Dibangunnya Candi pun berdasarkan petunjuk niskala (kadewatan) yang diperoleh para Resi/pertapa yang diwujudkan oleh sang Raja/Ratu pada masa kerajaan masing-masing. Sehingga hakekat kegaiban keberadaan bangunan Candi di lokasi tertentu sebenarnya memiliki energi yang sangat tinggi atau daya prana luar biasa yang bersifat kekal. 500 tahun lebih bangsa ini sebagai anak cucu leluhur Nusantara telah melupakan Candi. Semua ini adalah akibat masuknya pengaruh ajaran dan budaya barat (datang dari luar Nusantara) yang sama sekali tak mengenal dan tak mau mengerti bahkan akhirnya menghancurkan seluruh budaya yang semestinya tetap tumbuh di bumi pertiwi Nusantara ini. Sangat wajar kiranya jika kini bangsa dan negeri ini mengalami carut marut akibat degradasi moral yang semakin parah karena disebabkan telah kehilangan “Jati Diri”nya sendiri. Suku-suku etnis pada bangsa ini masing-masing secara dominan telah meninggalkan dan bahkan tak mau mengenal lagi adat budayanya masing-masing dengan segala tata kramanya yang berlandaskan pada budi pekerti. Sangat ironis memang, karena sadar atau tidak sadar kita telah berubah karakter menjadi bangsa lain yang sejatinya kita telah menjadi “kafir” sendiri, yaitu mengingkari ketetapan (ayat) Tuhan bahwa kita telah terlahir sebagai suku tertentu dengan adat budayanya masing-masing dalam wadah kesatuan bangsa Indonesia, berbahasa Indonesia dan bertanah air Indonesia.

Sejauh ini pada akhirnya memang Surat Terbuka kepada SBY sama sekali tidak mendapatkan tanggapan, namun upaya di dalam menjalankan amanah atas segala isyarah yang muncul tetap dijalani semaksimal mungkin dengan cara swadaya memenuhi amanah kegaiban leluhur atau petunjuk niskala. Bersama masyarakat Bali di bulan April tahun 2010 telah berhasil mewujudkan amanah sehingga Candi NARAYANA untuk pertama kalinya telah berdiri tegak di bumi Watukosek di kaki Gunung Penanggungan, Jawa Timur (Jawa Pawatan). Kemudian di bulan Januari tahun 2011 bersama masyarakat Lombok telah dapat mewujudkan candi kedua yaitu Candi SURADIPATI di bumi Lombok (Nusa Paneda). Candi yang ketiga adalah sangat khusus yaitu berupa Gapura/Gerbang batu setinggi 17 meter yang akan didirikan di bumi Pasundan (Jawa Barat) di tahun 2012 ini. Wujud candi inilah yang disebut dengan Gapura Mas SRI BIMA sebagai lambang Pasundan yang harus didirikan di wilayah Gunung Halimun. Mendirikan Gapura Mas SRI BIMA inilah yang dimaksud dengan membuka Gapura (Pambukaning Gapura) sebagai pelaksanaan syari’atnya hakekat bagi upaya memasuki Gerbang Jaman Kalasuba (jaman kejayaan/keemasan Nusantara). Baru berikutnya menyusul Candi PUNTA di Sumatera dan Candi MADURA di wilayah Madura.

Di masa peralihan jaman yang ditandai pula dengan menjelang masa pergantian kepemimpinan nasional, maka di tahun 2012 ini menjadi titik krusial yang sangat strategis bagi mewujudnya Gapura Mas SRI BIMA di bumi Pasundan. Sehingga beberapa peristiwa jatuhnya pesawat di bumi Pasundan memberikan isyarah yang sangat kuat bagi lahirnya kembali Kedhaton SRI BIMA yang berwujud Gapura Mas ini. Pesawat Sukhoi yang jatuh di wilayah Gunung Salak, di Kampung Batu Tapak, Cidahu, Bogor telah menjadi tanda panah yang teramat mahal nilainya. Berbicara Gunung Salak tak bisa lepas dengan keberadaan Gunung Halimun. Maka bukan kebetulan secara fisiknya disatukan sebagai sebuah wilayah yang kita kenal dengan “Taman Nasional Gunung Halimun – Salak”. Dari dimensi kegaiban wilayah ini merupakan wilayah “kerajaan gaib” yang sangat wingit (angker). Belum lagi formasi Segitiga Bermuda Gunung Salak – Gunung Halimun – Gunung Gede Pangrango, yang sangat erat hubungannya dengan wilayah laut selatan yang dilambangkan dengan Pelabuan Ratu – Karanghawu. Maka dari fenomena jatuhnya pesawat Sukhoi di lokasi itu memberikan arah tanda panah ke Batu Tapak Purnawarman yang masih berada di wilayah Bogor. Dari nama beliau yaitu Sri Baginda Maha Raja Purnawarman Bima Prakarma Sang Iswara Surya Maha Purusa Jagat Pati, maka terdapat lapis hakekat bahwa beliau disebut juga SRI BIMA. Sebagai titisan Wishnu dan menyandang nama Sang Iswara Surya (Dewa Matahari) maka beliau Purnawarman bisa juga disebut Kresna (Narayana; Nar = Cahaya api, Ra = Matahari, Yana = Ajaran, atau yang mengajarkan ajaran Matahari). Fenomena ini sangat terhubung dengan jatuhnya pesawat Cessna di wilayah Gunung Ciremai, Kuningan. Kata Cessna menunjuk pada istilah Kresna, dan wilayah kaki Gunung Ciremai menunjuk keberadaan Kedhaton SRI BIMA di masa lalu yang merupakan lambang wilayah “Cakra Buana”. Dan “Kuningan” merupakan tujuan dan harapan kita bersama yaitu melambangkan masa keemasan. Namun perlu diingat bahwa sebelum mencapai Kuningan, kita semua harus melalui Galungan Agung (Galunggung) yaitu proses dimana akan tercapai kemenangan Dharma (kebenaran/kebaikan) atas Adharma (keburukan). Sedangkan jatuhnya pesawat Fokker di kompleks Rajawali, Halim Perdanakusumah merupakan isyarah yang menunjuk ke Gunung Halim(un) sebagai tempat yang akan mengawali merebaknya wewangian memasuki Jaman Kalasuba. Wewangian yang merebak dan datang dari seorang Raja Wali (silahkan menjadi perenungan sendiri bagi pembaca siapakah beliau sejatinya ?).

Isyarah tentang “Kebangkitan Majapahit” di balik fenomena Semburan Lumpur Lapindo di Sidoarjo bukanlah berarti bahwa kita akan kembali ke era kerajaan seperti dahulu kala. Namun dari kacamata hakekat mengandung makna bahwa negeri ini akan menjadi sejahtera (Sidoarjo), untuk itu semua kekotoran yang terpendam selama ini karena sengaja ditutupi, akan ditumpas habis. Dan daya semesta akan berjalan selaras dengan itu, sehingga tak ada seorang manusiapun yang mampu menghalangi. Daya Kebangkitan Majapahit sebagai perlambang yang akan mampu merubah segala carut marut yang terjadi kurun waktu ini. Hal ini mengandung makna bahwa jika kita ingin kembali mengobarkan semangat MAJAPAHIT, tentu kita semua harus MAu JAlan PAHIT. Dan untuk bisa MAju dan JAya maka harus berani PAHIT. Merajut kembali Nusantara, berarti harus kembali merajut Majapahit, yaitu menghubungkan kembali secara hakekat mata rantai yang terputus (missing link). Keberadaan Majapahit terakhir adalah Majapahit di Daha di bawah pemerintahan Girindrawardhana (Dyah Ranawijaya) tahun 1486 – 1527 yang memiliki ayah bernama Suraprabawa (Singhawikramawardhana), memerintah tahun 1466 – 1474. Inilah isyarah di balik fenomena Semburan Lumpur Lapindo yang ada di wilayah Daha di masa lalu, jika kita kaitkan dengan masalah kepemimpinan nasional. Kata sandinya adalah GIRINDRAwardhana yang memiliki bapak SuraPRABAWA. Girindra berarti Raja Gunung atau bermakna sangat kokoh dan kuat, sedangkan Wardhana bermakna anugerah dari Sang Pencipta atau yang menyebabkan berlebih. Sura berarti orang yang kuat memahami yang nyata dan tak nyata (fisik dan metafisik), sedangkan Prabawa bermakna pancaran kewibawaan atau kharismatik. Jangan memandang ungkapan ini secara syari’at atau lahiriah yang tertulis, namun hakekat karakter pemimpin inilah yang dibutuhkan negeri ini yang akan mampu membersihkan “kekotoran” negeri ini. Mampu menjadi LAPINDO yang bermakna LAP adalah kain pembersih atau Alap-Alap (penyikat) INDOnesia, sehingga mampu membersihkan dari segala yang kotor. Karakter pemimpin inilah yang dibutuhkan negeri ini ke depan sehingga mampu membawa bangsa ini kembali memasuki Gapura Mas menuju Kejayaan Nusantara seperti yang telah dirintis oleh Gajah Mada Maha Patih Majapahit ketika itu. Siapapun sosok itu dan siapapun namanya.. Dari Majapahit kembali menuju Pajajaran, yang pada akhirnya terwujud situasi yang sejajar diantara keberagaman yang ada. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Tak ada diskriminasi antara satu dengan yang lainnya dengan nafas saling menghormati, beradab dan berkeadilan.

Ya.. Kata kuncinya adalah “kembali” (Sangkan paraning dumadi / Innalillahi wa inna illaihi roji’un), kembali ke Jati Diri bangsa sejatinya, kembali kepada adat budaya dan ajaran leluhur yang berlandaskan budi pekerti di tengah keberagaman dan keniscayaan yang ada. Bangsa ini membutuhkan pemimpin yang berani untuk mengajak bangsanya kembali untuk mendapatkan rasa “Percaya Diri” yang kuat seperti yang telah dibuktikan oleh para leluhur kita terutama Soekarno, Gajah Mada, dan Purnawarman. Sosok pemimpin yang terbukti Gagah dan Berani di dunia yang di dalam dadanya terpatri MERAH PUTIH dan GARUDA PANCASILA. Di balik apa yang telah diungkap di atas dengan segala hakekatnya, kata kunci yang paling utama adalah melaksanakan syari’atnya Hakekat untuk mempersembahkan Kembang SERUNI kepada Ibu Pertiwi. Semut-semut Hitam sebagai lambang “wong cilik” yang sadar akan dharma bakti bagi negeri ini akan terus berjalan berusaha mempersembahkan dan mewujudkan Gapura Mas SRI BIMA di Pasundan, Candi PUNTA di Sumatera, dan Candi MADURA di Madura, sebagai ungkapan do’a dengan harapan semoga apa yang diharapkan oleh para Leluhur Nusantara dan yang terbaik bagi seluruh rakyat negeri ini bisa terwujud berdasarkan PANCASILA.

Sekilas uraian di atas adalah merupakan upaya mengkemas dimensi fenomena misteri kegaiban Nusantara yang sangat rumit dan pelik dengan berusaha membaca “kasunyatan” yang ada berupa peristiwa-peristiwa nyata yang terjadi di seputaran Nusantara. Hal ini mengandung hikmah dan perenungan agar kita semua tidak terjebak pada upaya penalaran atau logika semata. Ada hal yang lebih hak lagi daripada urusan lahiriah yang dilambangkan dengan pikiran (otak), yaitu dimensi jiwa atau batiniah (gaib) berlandaskan Ke-Tuhan-an (Tauhid) yang sejatinya menghidupi sisi lahiriah.

“Cancut Tali Wondho.. Rawe-rawe Rantas, Malang-malang Putung.. Jangan tanya apa yang bisa kita dapatkan dari negeri ini, tapi tanyalah apa yang bisa kita berikan untuk negeri ini.. Sampai titik darah penghabisan kita persembahkan bagi IBU PERTIWI.” (Soekarno)

Salam MERAH PUTIH…

JAYALAH NEGERIKU, TEGAKLAH GARUDAKU,

JAYALAH NUSANTARAKU…

Semarang, Sabtu Pahing (Ukir) – 7 Juli 2012

Published in: on Juli 7, 2012 at 7:00 am  Comments (1)  

Candi SURADIPATI Muncul di Bumi Lombok

Syukur alhamdulillah.. Berkat rahmat Allah SWT / Sang Hyang Widi Wasa / Sang Hyang Adi Budha / Tuhan Yang Maha Esa, pada hari Rabu Wage (Buda Cemeng – Merakih) 26 Januari 2011 telah dilaksanakan Upacara Melaspas dan Nglenteg Linggih CANDI SAPTA RENGGA SURADIPATI di Tebango, Pemenang, Lombok Utara. Mohon do’a restu kepada para pinisepuh dan sedulur semeton se nusantara, semoga tetenger wujud amanah Dang Hyang Nirartha ini membuat seluruh mahluk berbahagia. Jayalah Nusantara. Damai, damai, damai.. Rahayu.. _/\_

Published in: on Februari 16, 2011 at 10:14 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Candi NARAYANA Muncul di Watukosek

Syukur Alhamdulillah.. Berkat rahmat Allah SWT / Sang Hyang Widi Wasa / Bapa di dalam Surga / Gusti Kang Akarya Jagad, telah rampung pembangunan Candi NARAYANA yang terletak di sisi selatan berdampingan dengan Pura JAGAD SAHASRA PASOPATI – Watukosek, Pasuruan, Jatim. Candi Majapahit NARAYANA yang lahir di bumi Watukosek di kaki Gunung Penanggungan ini adalah merupakan wujud hasil “amanah/petunjuk gaib” beliau Dang Hyang Nirartha/Dang Hyang Dwijendra/Pedanda Sakti Wawu Rawuh/Tuan Semeru untuk menjadi “tetenger” menandai kehadiran kembali atau “turun”nya beliau kembali ke Tanah Jawa sesuai dengan Sabdanya yang pernah diucapkan 500 tahun yang lalu. Semoga seluruh alam dan seluruh mahluk berbahagia.. Damai, Damai, Damai.. Sejahteralah Nusantara.. Om Santi Santi Santi Om.. Rahayu.. Amin Ya Robbal Alamin..

( klik gambar untuk melihat album foto )

Mohon Do’a Restu dari seluruh sedulur sedayu saudara-saudaraku, para sesepuh dan pinisepuh se-Tanah Air Nusantara atas rampungnya pembangunan CANDI NARAYANA di kaki Gunung Penanggungan, Watukosek, Pasuruan, Jawa Timur. Peresmian akan dilaksanakan nanti pada hari Minggu/Radite Paing – tanggal 4 April 2010 – pukul 9.00 wib, berlokasi di Pura Jagad Sahasra Pasopati (Pusdiklat Brimob Watukosek, Pasuruan, Jatim) dengan Upacara Ritual yang akan dipuput oleh IDA PEDANDA BANG BURUAN MANUABA (dari Denpasar, Bali). Upacara peresmian ini terbuka bagi siapa saja anak cucu leluhur nusantara dari berbagai agama dan kepercayaan. Semoga manifestasi amanah leluhur nusantara ini akan membawa Damai, Damai, Damai.. Nusantara Sejahtera..

Hyang Budha tan pahi lawan Siwa rajadewa ; Rwaneka-dhatu winuwus wara Buddhawiswa ; Bhineki rakwa rinapan kena parwanosen ; Mangka ng jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal ; Bhineka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

Salam MERAH PUTIH..

Published in: on Februari 25, 2010 at 1:32 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Sasmita Nusantara : Gempa Padang

Oleh : Tri Budi Marhaen Darmawan

Rabu sore 30 September 2009 jam 17.16 wib Ranah Minangkabau (Padang sekitarnya) digoyang gempa bumi yang menghancurkan dengan kekuatan 7,6 skala richter. Kejadian ini memakan begitu banyak korban jiwa baik yang tewas maupun luka-luka, dan entah berapa lagi yang masih belum diketemukan karena tertimbun puing-puing reruntuhan bangunan dan tanah longsor. Singkat kata, Padang luluh lantak dalam sekejap dan hingga kini meninggalkan kepedihan yang sangat memilukan. Kembali kenyataan ada di hadapan kita sebuah musibah tragis kembali terjadi dari sekian banyak rangkaian bencana yang melanda negeri ini sejak kejadian Tsunami Aceh di penghujung tahun 2004. Ada hakekat apa di balik ini semua ? Dalam kurun waktu ini apakah kita telah belajar dari segala musibah yang terjadi sebagai buah introspeksi diri ? Atau jangan-jangan kita telah terbiasa dengan segala musibah yang ada. Rasa empati, duka dan kesedihan hanya berlangsung selayang pandang untuk kemudian merasa biasa-biasa saja kembali tanpa ada hikmah bagi perubahan sikap moral kita ?

Kembali perlu digarisbawahi sebagai pengingatan kembali kita semua di dalam memandang kejadian-kejadian di hadapan kita. Sejatinya “Tidak ada yang namanya Kebetulan. Semua kejadian di dalam kehidupan ini sekecil apapun adalah merupakan Ketetapan yang Ditetapkan-Nya.” Segala apa yang terjadi pada diri dan juga di hadapan diri adalah merupakan Potret atau Citra diri, baik itu personal individu, keluarga, lingkungan masyarakat, institusi, bangsa atau negara, dan bahkan jagad dunia. Dalam hal ini lebih menunjuk kepada Potret atau Citra Batin yang merupakan Pancaran Batin. Karena yang bersifat lahir selalu dapat menipu daya, sedangkan sifat batin selalu apa adanya. Baik akan terlihat baik dan buruk akan terlihat buruk. Sesuatu yang lahir dapat didekati dengan yang lahir (tetapi nisbi). Namun batin tidak akan mampu didekati dengan yang lahir. Sebaliknya batin akan mampu mendekati dan menembusi baik yang lahir maupun batin (bersifat mutlak). Dan Batin inilah Sang Pemimpin Diri. Sehingga untuk tiap-tiap tingkatan lingkungan (jagad kecil – jagad besar) yang terpancar adalah Citra atau Potret “Sang Pemimpin”.

Gempa yang terjadi di Padang adalah Sasmita Nusantara. Padang dalam bahasa Jawa berarti “Terang atau Bercahaya.” Jika saat ini Padang hancur, maknanya tidak ada Terang alias Gelap. Bahkan dari kejadian akibat gempa itu merupakan gambaran Kegelapan yang memilukan dan menimbulkan berbagai kesulitan. Hari Rabu 30 September 2009 jam 17.16 wib dimana bencana itu datang, dalam perhitungan Jawa telah memasuki hari Kamis (Respati) Pahing 1 Oktober 2009, lambang wukunya (Julungwangi) adalah Betara Kala (letaknya Barat), Dasawaranya adalah Raja/pemimpin dengan lambang Sanghyang Rudra (menghancurkan), Paarasannya Lakuning Bumi, dan Pancasudanya adalah Lebu Katiup Angin (hidup serba kekurangan dan kesulitan, jauh dari keberuntungan). Dan ingatkah kita bahwa tanggal itu merupakan hari Kesaktian Pancasila ? Ini merupakan bukti gambaran bahwa Burung Garuda sebagai pusaka negeri ini telah murka karena Pancasila sebagai “pedoman hidup” bangsa tidak ditegakkan di negeri Nusantara ini, bahkan telah disia-siakan dan disalahgunakan. Sehingga bangsa ini diibaratkan sudah tidak lagi memiliki pedoman hidup (bhs Jawa : Pepadang) dan artinya ada di dalam kegelapan. Seseorang dalam kegelapan karena tidak memahami hidupnya. Hidup sekedar hidup-hidupan (Jawa : Urip-uripan). Hidupnya hanya terjebak kepada rutinitas hidup yang lebih berorientasi lahiriah. Begitu pula yang terjadi pada bangsa di negeri ini (baca : Sasmita Narendra Nusantara – Mbah Surip dan WS Rendra). Pada akhirnya yang terasa adalah sangat jauh dari Ridho Allah Azza wa Jalla, karena telah “ditinggalkan” oleh Sang Maha Hidup.

Minang Kabau adalah melambangkan Tanduk Kerbau. Minang berarti taji yang tajam dan runcing. Dan kerbau adalah merupakan kendaraan dari Dewa Rudra, yaitu dewa penghancur. Ini berarti sasmita budak angon tengah menggiring 18 kerbau dari selatan ke utara mulai menjadi kenyataan. Selatan ke utara merupakan lambang yang gaib atau sirr menjadi wujud atau menampak. Angka 18 merupakan lambang 8 penjuru mata angin dan 1 adalah pancernya. Namun yang terdengar hanya suara gentanya saja. Hal ini bermakna seperti angin, dari mana dan kapan datang perginya kita semua tidak tahu. Setidaknya ada suatu gambaran dengan kehancuran yang terjadi di Ranah Minangkabau merupakan perlambang bahwa Kerbau-kerbau telah mengamuk memainkan tanduknya yang mematikan. Waspadalah.. Dan ini bermakna bahwa yang mampu mengendalikan kerbau-kerbau ini adalah “Budak Angon” (seperti yang tertulis di dalam Uga Wangsit Siliwangi : “orang sunda dipanggil-panggil.., orang sunda memberi ampunan..”).

Di balik kejadian ini dari semua uraian di atas mengandung suatu makna pesan pada bangsa negeri ini sama hakekatnya dengan kehadiran Nabi Isa di jamannya. “Barangsiapa percaya kepada Allah, ia tidak akan dihukum. Barangsiapa tidak percaya Allah, ia telah berada di bawah hukuman. Karena ia tidak percaya.. Inilah hukuman itu.. Terang telah datang ke dalam dunia. Tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang. Sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang. Dan tidak datang kepada terang itu. Supaya perbuatan-perbuatan-Nya yang jahat itu tidak nampak. Tapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang. Supaya jadi nyata bahwa perbuatannya dilakukan dalam Allah.” Dan Gempa Padang merupakan lambang pesan yang menyiratkan bahwa “Terang” (Pepadang atau Cahaya Ilahiah) itu telah turun di bumi Nusantara ini guna menuntun dan memberi petunjuk bagi hamba yang sadar dan berada di jalan Kebenaran (wong kang eling lan waspada). Namun sebaliknya Cahaya Kasih Terang itu akan menyilaukan bahkan menghancurkan hamba-hamba sombong (Sumbar) yang berada di dalam Kegelapan.

Akhirnya dengan kejadian musibah Gempa Padang ada baiknya kita renungkan ayat-ayat yang menjelaskan maksud pesan kejadian itu, yaitu QS 16. An Nahl : 90 s/d 100, dan QS 10. Yunus : 93 s/d 103. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada para “Pemimpin” kita semua. Amin.

(Sang Raja Paksi “Garuda” telah turun ke bumi dari swargaloka menyusul sang majikan Sanghyang Ismoyo yang terlebih dahulu datang di Alas Sunyaruri. Namun kepakan sayapnya yang kuat meleburkan segala sesuatu yang dilalui. Saat ini Sanghyang Narayana telah berdiri tegak di tempatnya berpijak di tiga alam (tri loka) dengan membawa Kitab Suci di tangan kanan dan senjata Trisula Gana Suci di tangan kiri. Itulah tanda segala Pancer dari seluruh unsur telah menyatu dalam satu Kedhaton : Sri Bima Punta Narayana Mandura Suradipati.)

Selasa (Anggara) Pahing, 6 Oktober 2009

Published in: on Oktober 6, 2009 at 9:37 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Sasmita Narendra Nusantara : Mbah Surip dan WS Rendra

Oleh : Tri Budi Marhaen Darmawan

Mbah Surip (Urip Ahmad Riyanto) dan WS Rendra (Wahyu Sulaeman Rendra) mrpkan bahasa alam (simbol) dg hakekat yg amat sangat tinggi utk bangsa ini. Sastra Jendra Hayuningrat, wujud karya SENI (SENtuhan rohaNI) yg dikumandangkan oleh kelompok SENIMAN Sejati negeri ini sbg manifestasi “SENtuhan rohaNI MANusia Sejati” di abad ini. Bukti Tuhan Maha Pemurah dan Maha Kasih kpd semua hamba Nya. Tuhan Maha Adil menggunakan media pesan Nya yg dpt diketahui dan dikenali oleh segenap bangsa ini tanpa terkecuali. Bebas dari hijab atau sekat apapun. Sejatinya Sasmita Narendra ditujukan kpd para raja atau pemimpin (ulama dan umaro’) sbg kritik membangun guna pembenahan implementasi kebijakannya dlm memimpin rakyat. Tp tdk ada salahnya di era skrg ini kita sbg rakyat biasa berupaya mengenalinya. Krn para pemimpin di jaman ini sudah tdk lagi memiliki kearifan dlm kepedulian dan tanggap akan sasmita alam. Semua Petunjuk Tuhan berupa ayat-ayat suci yg tertulis di semua kitab suci dan ayat-ayat suci yg terbentang di alam nyata maupun gaib diperuntukkan bagi hamba-hamba Nya yg sadar (eling dan waspada) dan mau berpikir atau merenung.

Banyak hakekat yg bisa dibedah dr sosok seniman yg tengah besar namanya spt Mbah Surip dan “raja seniman sastra/teater” WS Rendra yg tlh besar namanya sejak dulu hingga kini. Yg pasti mereka sbg sosok seniman melambangkan “Kebebasan Sejati”. Orang-orang yg ingin Merdeka dlm hidupnya, tdk terikat oleh apapun dan siapapun. Bahkan tdk ingin terjajah oleh segala penindasan dan bahkan hawa nafsunya sendiri. Mereka adlh lambang orang-orang yg “Apa Adanya” dlm melakoni hidup. Yg mereka ekspresikan hanyalah “Keindahan” semata, baik yg tengah dirasakan maupun ingin dirasakan menjadi sebuah pengharapan. “Jamillun min jamalullah. Inallaha wa yahibuj jamal”. Segala keindahan adlh milik Tuhan, oleh krn Tuhan Maha Indah. Sampai-sampai demi sebuah keindahan yg ingin diungkapkan dan digapai, seringkali mereka melupakan dirinya. Ini nampak dr rambutnya yg dibiarkan panjang bahkan bergimbal. Kalau meminjam istilah di dlm Tasawuf, semua yg melekat pd sosok “seniman sejati” adlh lambang “Ketawadhu’an” (rendah hati), Kezuhudan (tdk ingin diikat dan terikat dg dunia), Qona’ah (menerima apa adanya), Jujur, Sabar dan Ikhlas, serta Istiqomah (setia dan konsisten menjalani jalan hidupnya).” Secara hakekat inilah yg menjadi harapan Tuhan kpd segenap hamba Nya tanpa terkecuali sesuai dg titah dan kodratnya.

Semua itu ditujukan bagi “Kebahagiaan Hidup” agar terlepas dr jebakan kerusakan moral yang memuncak saat ini. Urip berarti Hidup. Ahmad (Muhammad) berarti Terpuji atau Beradab. Dan ini adlh hakekat Syahadat. Dzat yg menghidupkan segala dzat adlh Allah. Dan Muhammad (Nur Muhammad / Nur Ahmad) adlh segala apa yg tercipta dr Sabda Nya. Jika manusia mampu memahami hakekat Syahadat, lebih dr sekedar ucapan saja, maka Insya Allah akan mampu menemukan Kebahagiaan alias RIYANg To.., Enak to.., Mantep to.. Hidup Terpuji dan Beradab.. Krn mencapai kesadaran bhw kita manusia ini sejatinya “digèndhong” oleh Hidup itu sendiri. Kalau sdh tdk “digèndhong” alias ditinggal pergi oleh Hidup, ya.. tdk ada sebutan.. alias “Mati”. Mati indrawi, mati hati, mati rasa, akhirnya mati raga menjadi mayat. Meninggalkan kesia-siaan, kebusukan, bahkan musibah bagi yg ditinggalkan. Beruntunglah Harimau mati meninggalkan kulit belangnya, dan Gajah mati meninggalkan gadingnya. Spt halnya Mbah Surip dan WS Rendra yg mewariskan “Keberkahan” bagi yg ditinggalkan.

Perlambang ini lebih telak lagi krn kita disuruh mengingat dan merenungkan kisah Nabi Sulaeman dan Ratu Balqis. Singkat cerita dimana pd akhirnya Ratu Balqis sbg lambang “hawa buruk” awalnya, kemudian tunduk kpd Nabi Sulaeman stlh menerima surat yg bertulis kata : “Bismillahirrohmanirrohim”. Setelah itu Ratu Balqis tersadar dr kezalimannya dan mengajak para pembesarnya utk patuh dan berserah diri kpd Allah SWT. Dan yg lebih dalam tersirat dr hakekat sasmita/perlambang ini adlh bagi siapa saja yg mengabaikan atau menolak bahkan mengingkari pesan ini, mk resiko dan konsekuensinya adlh “tidak akan digèndhong” alias akan ditinggalkan “hidup sejati”nya. Kalau sdh begitu jadinya maka ya akan tersesat di jalan, dan merasakan ketidaknyamanan dr yg semestinya. Krn sejatinya kita ini semua hanya “numpang” hidup, numpang lewat dlm kehidupan di dunia ini. Orang Jawa bilang : “Urip mung sekedar mampir ngombé” (hidup hanya sekedar mampir minum). Jadi bisa dibayangkan jika kita meninggalkan atau melupakan kpd yg memberi tumpangan kita. Dlm hal ini Mbah Surip menawarkan diri utk menggèndhong drpd kita naik ojek, taxi, dan pesawat sekalipun supaya tdk kesasar krn ditipu daya bahkan kedinginan. Jangan meremehkan Mbah Surip. Kenali dulu siapa Mbah Surip ? Jangan keburu kita terjebak melihat casing luarnya (sosok penampilan luar) utk kemudian merendahkannya. Waspadalah.. Krn sejatinya Mbah Surip adlh hakekat lambang Urip atau Hidup yg menggèndhong kita selama ini kemana-mana. Haaa… Haaa… Haaa… Sadarkah kita ? Dan Mbah Surip hanya mampu tertawa menertawakan “kelucuan” polah tingkah manusia yg pada tertipu daya dan kesasar krn mengabaikan dan tdk mau memahami Mbah Surip.. èèhh.. HIDUP.. maksudnya.. Haaa… Haaa… Haaa…

( Luar biasa cara Eyang Semar atau Kaki Sabdo Palon dalam “bercanda” (guyon parikeno) menandai kehadirannya kembali di Tanah Jawa atau Nusantara (Jazirah al Jawi) ini pd tgl 5 Agustus 2009, hari Rabu (Buda) Kliwon (Syiwa), wuku Shinta, dan lambangnya Sanghyang Yamadipati (malaikat pati). Budak Angon tengah menggiring 18 Kerbau berjalan dari Selatan ke Utara. Dan yg terdengar hanya suara gentanya saja… Haaa… Haaa… Haaa… Tholé… Tholé… )

Senin (Soma) Kliwon, 10 Agustus 2009

Published in: on Agustus 11, 2009 at 2:24 pm  Comments (40)  

Telah Terbit : Buku “Menelisik Jejak Satrio Piningit”

buku-sp.jpgMisteri Satrio Piningit tak pernah pupus dari benak dan relung hati anak cucu leluhur Nusantara. Fenomena sejak masa kewalian pasca kehancuran Majapahit ini sangat lekat terutama bagi anak cucu Jawa – Bali Dwipa. Perjalanan sejarah Nusantara telah menjadi saksi hidup tentang kemunculan Satrio Piningit di setiap perubahan masa yang telah diwasiatkan oleh para leluhur Nusantara ratusan tahun yang lalu. Raden Patah (Jimbun), Sultan Hadiwijoyo (Joko Tingkir), dan Panembahan Senopati (Sutowijoyo) adalah sosok Satrio Piningit pada masanya atas dukungan para wali, utamanya Sunan Bonang, Sunan Giri dan Sunan Kalijaga. Dari beberapa peristiwa bersejarah tersebut mengandung makna yang tersirat bahwa kemunculan Satrio Piningit “sejati” selalu berada pada pergantian “masa besar” Nusantara dimana senantiasa tidak meninggalkan peran sosok wali (aulia).

Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono dapat pula dikatakan sosok Satrio Piningit (sesuai ramalan R.Ng. Ronggowarsito) setelah Nusantara beralih menjadi NKRI. Fenomena yang sangat menarik saat ini adalah : Akankah Satrio Piningit “sejati” yang dikenal dengan nama Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu muncul pada masa ini ? Mengingat dari situasi dan tanda-tanda alam yang terjadi mengindikasikan bahwa Nusantara akan memasuki “Era Baru” yaitu : Jaman Kalasuba (Kejayaan).

Berkaitan dengan penyelenggaraan acara “Sarasehan : Jalan Setapak Menuju Nusantara Jaya” di Semarang pada tanggal 20 Desember 2007, yang mencanangkan topik : REVOLUSI AKBAR SPIRITUAL NUSANTARA, maka untuk menandai mulai terkuaknya tabir misteri Nusantara diluncurkan sebuah buku berjudul : PERJALANAN SPIRITUAL – MENELISIK JEJAK SATRIO PININGIT yang ditulis oleh : Tri Budi Marhaen Darmawan – Nurahmad.
Buku setebal 272 halaman ini berisikan ungkapan hasil “perjalanan spiritual” penulis yang baru disadari kemudian ternyata telah masuk ke dalam pusaran misteri ini. Dalam buku ini diungkap secara lebih vulgar mengenai sosok Satrio Piningit yang dinanti. Semoga membawa manfaat untuk segenap anak cucu leluhur Nusantara tercinta.

Buku ini bisa diperoleh di seluruh Toko Buku GRAMEDIA se Jawa – Bali.

Penerbit :
CIPTA KARSA MULTIMEDIA – Semarang
Email : bukusatriapiningit@yahoo.co.id
Telp : (024) 70193818 / 0818293216

Published in: on Desember 30, 2007 at 11:20 am  Komentar Dimatikan  

Menyibak Tabir Misteri Nusantara

peta-jawa.jpgKeberadaan blog ini saya persembahkan untuk seluruh rakyat nusantara sebagai ungkapan rasa keprihatinan atas carut marut yang sedang terjadi di bumi pertiwi ini. Berawal dari komunikasi intensif saya dengan bapak Tri Budi Marhaen Darmawan (penulis Surat Terbuka kepada SBY) telah membawa saya kepada pencerahan cakrawala pemahaman tentang apa dan bagaimana kejadian yang tengah berlangsung dan prediksi yang akan terjadi di negeri ini. Bahkan tidak berlebihan kalau saya katakan bahwa ini merupakan suatu upaya membedah warisan leluhur yang sarat dengan perlambang sehingga sedikit demi sedikit terkuak tabir misteri jagad nusantara ini. Sangat luar biasa. Hal ini sepatutnya bisa dipahami oleh seluruh anak cucu leluhur bangsa ini sebagai pewaris sah tataran tanah surgawi yang bernama Nusantara.

Hasil kajian spiritual bapak Tri Budi Marhaen Darmawan berusaha saya pahami dengan “rasa naluri” yang mendalam dengan tanpa mengabaikan logika berpikir sehat. Memang banyak hal sulit ditelusuri melalui referensi buku-buku sejarah atau dengan bukti-bukti empiris yang ada, namun dengan semangat menguak tabir misteri untuk lebih memahami fenomena yang terjadi saat ini, maka segala sesuatunya yang dapat saya cerna berusaha saya ungkapkan secara sederhana apa adanya di dalam blog ini. Ibarat mencari mata rantai yang hilang (missing link), nampaknya misteri yang ditinggalkan pasca keruntuhan Majapahit (500 tahun yang lalu) mulai terlihat secara samar-samar. Sayapun mulai memahami apa makna yang tersirat dari saran bapak Tri Budi Marhaen Darmawan kepada SBY di dalam Surat Terbukanya kepada SBY sbb :

”Kumpulkanlah ahli-ahli Thoriqoh negeri ini yaitu mursyid/syeh-syeh yang telah mencapai maqom ma’rifat “Mukasyafah”, Pedanda-pedanda sakti agama Hindu, Bhiksu-bhiksu agama Budha yang telah sempurna, serta kasepuhan waskito dari Keraton Jogja, Solo & Cirebon, untuk bersama-sama memohon petunjuk kepada Allah SWT  mencari siapa sosok orang yang mampu mengatasi keadaan ini dan mencari jawab dari misteri ramalan para leluhur di atas. Gunakan 4 point panduan saya untuk memandu mereka. Insya Allah, jika Allah Azza wa Jalla memberikan ijin dan ridho-Nya akan diketemukan jawabannya.”   

Walaupun Surat Terbuka tersebut tidak mendapat tanggapan dari yang bersangkutan presiden SBY, namun saya memiliki keyakinan bahwa beliau bapak Tri Budi Marhaen Darmawan “mengetahui” banyak hal tentang fenomena  jagad nusantara ini. Tanpa berniat mengundang perdebatan, semoga ungkapan saya dapat menjadi bahan perenungan kita bersama guna menyongsong fajar kejayaan Nusantara yang kita cintai. Saya berharap, apabila ada komentar-komentar yang masuk dari para blogger, mohon dilandasi dengan sikap penuh ketulusan dan tawadhu’ jauh dari rasa riya’ dan ujub.

Memahami Makna Karya Warisan Leluhur Nusantara

Terlebih dahulu saya ucapkan terima kasih kepada bapak Tri Budi Marhaen Darmawan atas pemberian referensi-referensinya berupa naskah : Bait-bait syair terakhir Ramalan Joyoboyo, Kitab Musarar Joyoboyo, Uga Wangsit Siliwangi, Serat Darmagandhul, dan Ramalan Ronggowarsito. Setelah saya membaca dan berusaha memahami dengan segala perenungan, maka sayapun menjadi takjub dibuatnya akan karya-karya beliau para leluhur kita. Antara satu dengan lainnya walaupun berbeda masa/periode yang jauh berselang, namun ternyata di dalam perlambangnya memiliki saling keterkaitan. Suatu perlambang dalam suatu karya menunjuk kepada perlambang atau karakter yang lain di dalam karya leluhur yang berbeda. Saya merasakan bahwa tanpa intervensi kemampuan spiritual yang tinggi akan sangat sulit memahami keterkaitan perlambang-perlambang ini. Dan fenomena ini membuktikan bahwa hanya dengan mengandalkan akal penalaran saja akan mengantarkan kita kepada jalan buntu. Akhirnya menyerah pada keputusasaan dengan menganggap bahwa ini semua merupakan sekedar ramalan yang tidak berguna. Masing-masing orang bisa saja menafsirkan hal tersebut dengan penafsiran yang berbeda-beda. Tidak ada yang melarang. Bebas-bebas saja. Benar tidaknya kembali kepada diri kita masing-masing. Inilah tabir misteri. Kebenaran sejati adanya di dalam nurani yang suci dan bersih. Dalam blog ini referensi-referensi tersebut dapat dibaca secara lengkap pada kolom Wasiat Nusantara.

 

Uga Wangsit Siliwangi
Saya akan mengawali dengan menandai suatu masa yang dikatakan dalam naskah Wangsit Siliwangi sbb :
“Laju ngadeg deui raja, asalna jalma biasa. Tapi mémang titisan raja. Titisan raja baheula jeung biangna hiji putri pulo Dewata. da puguh titisan raja; raja anyar hésé apes ku rogahala!”
(“Lalu berdiri lagi penguasa yang berasal dari orang biasa. Tapi memang keturunan raja dahulu kala dan ibunya adalah seorang putri Pulau Dewata. Karena jelas keturunan raja; penguasa baru susah dianiaya!”)

Inilah Soekarno presiden pertama NKRI. Ibunda Soekarno adalah Ida Ayu Nyoman Rai seorang putri bangsawan Bali. Ayahnya seorang guru bernama Raden Soekeni Sosrodihardjo. Namun dari penelusuran secara spiritual, ayahanda Soekarno sebenarnya adalah Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono X. Nama kecil Soekarno adalah Raden Mas Malikul Koesno. Beliau termasuk “anak ciritan” dalam lingkaran kraton Solo. (Silakan dibuktikan..)

 

Lalu pada alinea menjelang akhir dikatakan :
”Jayana buta-buta, hanteu pati lila; tapi, bongan kacarida teuing nyangsara ka somah anu pada ngarep-ngarep caringin reuntas di alun-alun. Buta bakal jaradi wadal, wadal pamolahna sorangan. Iraha mangsana? Engké, mun geus témbong budak angon! Ti dinya loba nu ribut, ti dapur laju salembur, ti lembur jadi sanagara! Nu barodo jaradi gélo marantuan nu garelut, dikokolotan ku budak buncireung! Matakna garelut? Marebutkeun warisan. Nu hawek hayang loba; nu boga hak marénta bagianana. Ngan nu aréling caricing. Arinyana mah ngalalajoan. Tapi kabarérang.”
(”Kekuasaan penguasa buta tidak berlangsung lama, tapi karena sudah kelewatan menyengsarakan rakyat yang sudah berharap agar ada mukjizat datang untuk mereka. Penguasa itu akan menjadi tumbal, tumbal untuk perbuatannya sendiri, kapan waktunya? nanti, saat munculnya pemuda gembala! Di situ akan banyak huru-hara, yang bermula di satu daerah semakin lama semakin besar meluas di seluruh negara. yang tidak tahu menjadi gila dan ikut-ikutan menyerobot dan bertengkar, dipimpin oleh pemuda gendut! sebabnya bertengkar? memperebutkan tanah. Yang sudah punya ingin lebih, yang berhak meminta bagiannya. Hanya yang sadar pada diam, mereka hanya menonton tapi tetap terbawa-bawa.”)

Kalau kita perhatikan dengan cermat alinea ini, maka memang saat ini seluruh rakyat sedang berharap-harap menunggu datangnya mujizat di tengah-tengah carut marut yang sedang berlangsung di negeri ini. Lebih-lebih utamanya rakyat korban lumpur Lapindo yang kian hari kian sengsara. Dan akhir-akhir ini banyak terjadi kasus perebutan tanah di mana-mana di tataran wilayah nusantara. Fenomena ini ditandai dengan kasus Pasuruan baru-baru ini yang membawa 4 korban tewas.

 

Dalam mengkaji Wangsit Siliwangi ini kita akan menemui lelakon atau pemeran utama yang dikatakan dengan istilah “pemuda gembala” (budak angon) dan “pemuda berjanggut” (budak janggotan). Coba mari kita simak alinea berikut :
”Nu garelut laju rareureuh; laju kakara arengeuh; kabéh gé taya nu meunang bagian. Sabab warisan sakabéh béak, béakna ku nu nyarekel gadéan. Buta-buta laju nyarusup, nu garelut jadi kareueung, sarieuneun ditempuhkeun leungitna nagara. Laju naréangan budak angon, nu saungna di birit leuwi nu pantona batu satangtung, nu dihateup ku handeuleum ditihangan ku hanjuang. Naréanganana budak tumbal. sejana dék marénta tumbal. Tapi, budak angon enggeus euweuh, geus narindak babarengan jeung budak anu janggotan; geus mariang pindah ngababakan, parindah ka Lebak Cawéné!”
(”Yang bertengkar lalu terdiam dan sadar ternyata mereka memperebutkan pepesan kosong, sebab tanah sudah habis oleh mereka yang punya uang. Para penguasa lalu menyusup, yang bertengkar ketakutan, ketakutan kehilangan negara, lalu mereka mencari anak gembala, yang rumahnya di ujung sungai yang pintunya setinggi batu, yang rimbun oleh pohon handeuleum dan hanjuang. Semua mencari tumbal, tapi pemuda gembala sudah tidak ada, sudah pergi bersama pemuda berjanggut, pergi membuka lahan baru di Lebak Cawéné!”)

Dimanakah Lebak Cawéné ? Lebak Cawéné adalah suatu lembah seperti cawan, yang dikatakan di dalam Kitab Musarar Joyoboyo sebagai Gunung Perahu. Tempat itu digambarkan sebagai suatu lembah atau bukit dimana permukaannya cekung seperti tertumbuk perahu besar. Dikatakan oleh bapak Tri Budi Marhaen Darmawan, secara gambaran spiritual, di tempat itu terdapat 2 sumber air besar dan ditandai dengan 3 pohon beringin (Ringin Telu).

 

Lanjutnya :
”Nu kasampak ngan kari gagak, keur ngelak dina tutunggul. Daréngékeun! Jaman bakal ganti deui. tapi engké, lamun Gunung Gedé anggeus bitu, disusul ku tujuh gunung. Génjlong deui sajajagat. Urang Sunda disarambat; urang Sunda ngahampura. Hadé deui sakabéhanana. Sanagara sahiji deui. Nusa Jaya, jaya deui; sabab ngadeg ratu adil; ratu adil nu sajati. Tapi ratu saha? Ti mana asalna éta ratu? Engké ogé dia nyaraho. Ayeuna mah, siar ku dia éta budak angon! Jig geura narindak! Tapi, ulah ngalieuk ka tukang!”
(”Yang ditemui hanya gagak yang berkoar di dahan mati. Dengarkan! jaman akan berganti lagi, tapi nanti, Setelah Gunung Gede meletus, disusul oleh tujuh gunung. Ribut lagi seluruh bumi. Orang sunda dipanggil-panggil, orang sunda memaafkan. Baik lagi semuanya. negara bersatu kembali. Nusa jaya lagi, sebab berdiri ratu adil, ratu adil yang sejati. Tapi ratu siapa? darimana asalnya sang ratu? Nanti juga kalian akan tahu. Sekarang, carilah pemuda gembala. Segeralah pergi, ingat jangan menoleh kebelakang!”)

Perlambang gagak berkoar di dahan mati bermakna situasi dimana banyak suara-suara tanpa arti. Rakyat menjerit-jerit, penguasa mengumbar janji-janji kosong. Sedangkan negara digambarkan banyak ditimpa bencana. Lalu, siapakah ”budak angon” itu ? Dari bait tersebut diperlambangkan bahwa budak angon adalah orang sunda atau berdarah sunda. Hal ini akan kita bedah lagi setelah sampai pada kesimpulan setelah kita mengkaji karya-karya leluhur lainnya.

 

Kitab Musarar Jayabaya
Di dalam naskah inipun saya akan mengawali dengan menandai suatu masa atau periode dalam Sinom bait 18 yang berbunyi :
”Dene jejuluke nata, Lung gadung rara nglikasi, Nuli salin gajah meta, Semune tengu lelaki, Sewidak warsa nuli, Ana dhawuhing bebendu, Kelem negaranira, Kuwur tataning negari, Duk semana pametune wong ing ndesa.”
(”Nama rajanya Lung gadung rara nglikasi kemudian berganti gajah meta semune tengu lelaki. Enam puluh tahun menerima kutukan sehingga tenggelam negaranya dan hukum tidak karu-karuan. Waktu itu pajaknya rakyat adalah..”)

Lung gadung rara nglikasi memiliki makna yaitu pemimpin yang penuh inisiatif (cerdas) namun memiliki kelemahan mudah tergoda wanita. Perlambang ini menunjuk kepada presiden pertama RI, Soekarno. Sedangkan Gajah meta semune tengu lelaki bermakna pemimpin yang kuat karena disegani atau ditakuti namun akhirnya terhina atau nista. Perlambang ini menunjuk kepada presiden kedua RI, Soeharto. Dalam bait ini juga dikatakan bahwa negara selama 60 tahun menerima kutukan sehingga tidak ada kepastian hukum. Ingat, usia kemerdekaan NKRI saat ini menjelang 62 tahun.

 

Dalam bait 20 dikatakan :
”Bojode ingkang negara, Narendra pisah lan abdi, Prabupati sowang-sowang, Samana ngalih nagari, Jaman Kutila genti, Kara murka ratunipun, Semana linambangan, Dene Maolana Ngali, Panji loro semune Pajang Mataram.”
(”Negara rusak. Raja berpisah dengan rakyat. Bupati berdiri sendiri-sendiri. Kemudian berganti jaman Kutila. Rajanya Kara Murka. Lambangnya Panji loro semune Pajang Mataram.”)

Bait ini menggambarkan situasi negara yang kacau. Pemimpin jauh dari rakyat, dan dimulainya era baru dengan apa yang dinamakan otonomi daerah sebagai implikasi bergulirnya reformasi (Jaman Kutila). Karakter pemimpinnya saling jegal untuk saling menjatuhkan (Raja Kara Murka). Perlambang Panji loro semune Pajang – Mataram bermakna ada dua kekuatan pimpinan yang berseteru, yang satu dilambangkan dari trah Pajang (Joko Tingkir), dan yang lain dilambangkan dari trah Mataram (Pakubuwono). Hal ini menunjuk kepada era Gus Dur dan Megawati.

 

Lalu pada bait 21 tertulis :
”Nakoda melu wasesa, Kaduk bandha sugih wani, Sarjana sirep sadaya, Wong cilik kawelas asih, Mah omah bosah-basih, Katarajang marga agung, Panji loro dyan sirna, Nuli Rara ngangsu sami, Randha loro nututi pijer tetukar.”
(”Nakhoda ikut serta memerintah. Punya keberanian dan kaya. Sarjana tidak ada. Rakyat sengsara. Rumah hancur berantakan diterjang jalan besar. Kemudian diganti dengan lambang Rara ngangsu, randha loro nututi pijer tetukar.”)

Situasi negara dalam bait ini digambarkan bahwa kekuatan asing memiliki pengaruh yang sangat besar. Orang arif dan bijak dilambangkan tidak berdaya. Kondisi rakyat makin sengsara saja. Perlambang Rara ngangsu, randha loro nututi pijer tetukar bermakna seorang pemimpin wanita yang selalu diintai oleh dua saudara wanitanya seolah ingin menggantikan. Perlambang ini menunjuk kepada Megawati, presiden RI kelima yang selalu dibayangi oleh Rahmawati dan Sukmawati.

 

Pada bait 22 dikatakan :
Tan kober paes sarira, Sinjang kemben tan tinolih, Lajengipun sinung lambang, Dene Maolana Ngali, Samsujen Sang-a Yogi, Tekane Sang Kala Bendu, Ing Semarang Tembayat, Poma den samya ngawruhi, Sasmitane lambang kang kocap punika.”
(”Tan kober paes sarira, Sinjang kemben tan tinolih itu sebuah lambang yang menurut Seh Ngali Samsujen datangnya Kala Bendu. Di Semarang Tembayat itulah yang mengerti/memahami lambang tersebut.”)

Perlambang Tan kober paes sarira, Sinjang kemben tan tinolih bermakna pemimpin yang tidak sempat mengatur negara karena direpotkan dengan berbagai masalah. Ini menunjuk kepada presiden RI keenam saat ini yaitu Susilo Bambang Yudhoyono. Sedangkan perlambang Semarang Tembayat merupakan tempat dimana seseorang memahami dan mengetahui solusi dari apa yang terjadi. Semarang Tembayat merupakan tempat yang masih misteri dimana di dalam Surat Terbuka kepada SBY bapak Tri Budi Marhaen Darmawan menggambarkan sbb :

Jawaban dan solusi guna mengatasi carut marut keadaan bangsa ini ada di “Semarang Tembayat” yang telah diungkapkan oleh Prabu Joyoboyo. Guna membantu memecahkan misteri ini dapatlah saya pandu sebagai berikut :

  1. Sunan Tembayat adalah Bupati pertama Semarang. Sedangkan tempat yang dimaksud adalah lokasi dimana Kanjeng Sunan Kalijaga memerintahkan kepada Sunan Tembayat untuk pergi ke Gunung Jabalkat (Klaten). Secara potret spiritual, lokasi itu dinamakan daerah “Ringin Telu” (Beringin Tiga), berada di daerah pinggiran Semarang.
  2. Semarang Tembayat juga bermakna Semarang di balik Semarang. Maksudnya adalah di balik lahir (nyata), ada batin (gaib). Kerajaan gaib penguasa Semarang adalah “Barat Katiga”. Insya Allah lokasinya adalah di daerah “Ringin Telu” itu.
  3. Semarang Tembayat dapat diartikan : SEMARANG TEMpatnya BArat DaYA Tepi. Dapat diartikan lokasinya adalah di Semarang pinggiran arah Barat Daya.”

Kemudian pada bait 27 berbunyi :
”Dene besuk nuli ana, Tekane kang Tunjung putih, semune Pudhak kasungsang, Bumi Mekah dennya lair, Iku kang angratoni, Jagad kabeh ingkang mengku, Juluk Ratu Amisan, Sirep musibating bumi, Wong nakoda milu manjing ing samuwan,”
(“Kemudian kelak akan datang Tunjung putih semune Pudak kasungsang. Lahir di bumi Mekah. Menjadi raja di dunia, bergelar Ratu Amisan, redalah kesengsaraan di bumi, nakhoda ikut ke dalam persidangan.”)

Perlambang Tunjung putih semune Pudak kasungsang memiliki makna seorang pemimpin yang masih tersembunyi berhati suci dan bersih. Inilah seorang pemimpin yang dikenal banyak orang dengan nama “Satrio Piningit”. Lahir di bumi Mekah merupakan perlambang bahwa pemimpin tersebut adalah seorang Islam sejati yang memiliki tingkat ketauhidan yang sangat tinggi.

Sedangkan bait 28 tertulis :
”Prabu tusing waliyulah, Kadhatone pan kekalih, Ing Mekah ingkang satunggal, Tanah Jawi kang sawiji, Prenahe iku kaki, Perak lan gunung Perahu, Sakulone tempuran, Balane samya jrih asih, Iya iku ratu rinenggeng sajagad.”
(“Raja utusan waliyullah. Berkedaton dua di Mekah dan Tanah Jawa. Letaknya dekat dengan gunung Perahu, sebelah barat tempuran. Dicintai pasukannya. Memang raja yang terkenal sedunia.”)

Bait ini menggambarkan bahwa pemimpin tersebut adalah hasil didikan/tempaan seorang waliyullah (aulia) yang juga selalu tersembunyi. Berkedaton di Mekah dan Tanah Jawa merupakan perlambang yang bermakna bahwa pemimpin tersebut selain ber-Islam sejati namun juga berpegang teguh pada kawruh Jawa (ajaran leluhur Jawa). Sedangkan gunung Perahu seperti telah disinggung di atas adalah Lebak Cawéné. Kembali lagi, dimana tempatnya ? Kita telah membaca bait 22 di atas. Ya di Semarang Tembayat itu tempatnya. Sedangkan tempuran adalah pertemuan dua sungai di muara yang biasanya digunakan untuk tempat bertirakat ”kungkum” bagi orang Jawa. Namun disini tempuran bermakna ”watu gilang” sebagai tempat pertemuan alam fisik dan alam gaib. Dalam kebudayaan Jawa keberadaan watu gilang sangat lekat dengan eksistensi seorang raja. Insyaallah.. Pemimpin tersebut akan mampu memimpin nusantara ini dengan baik, adil dan membawa kepada kesejahteraan rakyat, serta menjadikan nusantara sebagai ”barometer dunia” (istilah Bung Karno : ”negara mercusuar”).

 

Bait-Bait Terakhir Ramalan Joyoboyo
Dalam bait-bait terakhir ramalan Joyoboyo digambarkan suasana negara yang kacau penuh carut marut serta terjadi kerusakan moral yang luar biasa. Namun dengan adanya fenomena tersebut kemudian digambarkan munculnya seseorang yang arif dan bijaksana yang mampu mengatasi keadaan. Berikut adalah cuplikan bait-bait tersebut yang menggambarkan ciri-ciri atau karakter seseorang itu :

159.
selet-selete yen mbesuk ngancik tutuping tahun sinungkalan dewa wolu, ngasta manggalaning ratu; bakal ana dewa ngejawantah; apengawak manungsa; apasurya padha bethara Kresna; awatak Baladewa; agegaman trisula wedha; jinejer wolak-waliking zaman; …
(selambat-lambatnya kelak menjelang tutup tahun (akhir Kalabendu, menjelang Kalasuba); akan ada dewa tampil; berbadan manusia; berparas seperti Batara Kresna; berwatak seperti Baladewa; bersenjata trisula wedha; tanda datangnya perubahan zaman; …)

160.
…; iku tandane putra Bethara Indra wus katon; tumeka ing arcapada ambebantu wong Jawa
(…; itulah tanda putra Batara Indra sudah nampak; datang di bumi untuk membantu orang Jawa)

162.
…; bala prewangan makhluk halus padha baris, pada rebut benere garis; tan kasat mata, tan arupa; sing madhegani putrane Bethara Indra; agegaman trisula wedha; momongane padha dadi nayaka perang perange tanpa bala; sakti mandraguna tanpa aji-aji
(…; pasukan makhluk halus sama-sama berbaris, berebut garis yang benar tak kelihatan, tak berbentuk; yang memimpin adalah putra Batara Indra, bersenjatakan trisula wedha; para asuhannya menjadi perwira perang; jika berperang tanpa pasukan; sakti mandraguna tanpa azimat)

163.
apeparap pangeraning prang; tan pokro anggoning nyandhang; ning iya bisa nyembadani ruwet rentenging wong sakpirang-pirang; …
(bergelar pangeran perang; kelihatan berpakaian kurang pantas; namun dapat mengatasi keruwetan banyak orang; …)

164.
…; mumpuni sakabehing laku; nugel tanah Jawa kaping pindho; ngerahake jin setan; kumara prewangan, para lelembut ke bawah perintah saeko proyo kinen ambantu manungso Jawa padha asesanti trisula weda; landhepe triniji suci; bener, jejeg, jujur; kadherekake Sabdopalon lan Noyogenggong
(…; menguasai seluruh ajaran (ngelmu); memotong tanah Jawa kedua kali; mengerahkan jin dan setan; seluruh makhluk halus berada dibawah perintahnya bersatu padu membantu manusia Jawa berpedoman pada trisula weda; tajamnya tritunggal nan suci; benar, lurus, jujur; didampingi Sabdopalon dan Noyogenggong)

166.
idune idu geni; sabdane malati; sing mbregendhul mesti mati; ora tuwo, enom padha dene bayi; wong ora ndayani nyuwun apa bae mesthi sembada; garis sabda ora gentalan dina; beja-bejane sing yakin lan tuhu setya sabdanira; tan karsa sinuyudan wong sak tanah Jawa; nanging inung pilih-pilih sapa
(ludahnya ludah api, sabdanya sakti (terbukti), yang membantah pasti mati; orang tua, muda maupun bayi; orang yang tidak berdaya minta apa saja pasti terpenuhi; garis sabdanya tidak akan lama; beruntunglah bagi yang yakin dan percaya serta menaati sabdanya; tidak mau dihormati orang se tanah Jawa; tetapi hanya memilih beberapa saja)

167.
waskita pindha dewa; bisa nyumurupi lahire mbahira, buyutira, canggahira; pindha lahir bareng sadina; ora bisa diapusi marga bisa maca ati; wasis, wegig, waskita; ngerti sakdurunge winarah; bisa pirsa mbah-mbahira; angawuningani jantraning zaman Jawa; ngerti garise siji-sijining umat; Tan kewran sasuruping zaman
(pandai meramal seperti dewa; dapat mengetahui lahirnya kakek, buyut dan canggah anda; seolah-olah lahir di waktu yang sama; tidak bisa ditipu karena dapat membaca isi hati; bijak, cermat dan sakti; mengerti sebelum sesuatu terjadi; mengetahui leluhur anda; memahami putaran roda zaman Jawa; mengerti garis hidup setiap umat; tidak khawatir tertelan zaman)

168.
mula den upadinen sinatriya iku; wus tan abapa, tan bibi, lola; awus aputus weda Jawa; mung angandelake trisula; landheping trisula pucuk; gegawe pati utawa utang nyawa; sing tengah sirik gawe kapitunaning liyan; sing pinggir-pinggir tolak colong njupuk winanda
(oleh sebab itu carilah satria itu; yatim piatu, tak bersanak saudara; sudah lulus weda Jawa; hanya berpedoman trisula; ujung trisulanya sangat tajam; membawa maut atau utang nyawa; yang tengah pantang berbuat merugikan orang lain; yang di kiri dan kanan menolak pencurian dan kejahatan)

170.
ing ngarsa Begawan; dudu pandhita sinebut pandhita; dudu dewa sinebut dewa; kaya dene manungsa; …
(di hadapan Begawan; bukan pendeta disebut pendeta; bukan dewa disebut dewa; namun manusia biasa; …)

171.
aja gumun, aja ngungun; hiya iku putrane Bethara Indra; kang pambayun tur isih kuwasa nundhung setan; tumurune tirta brajamusti pisah kaya ngundhuh; hiya siji iki kang bisa paring pituduh marang jarwane jangka kalaningsun; tan kena den apusi; marga bisa manjing jroning ati; ana manungso kaiden ketemu; uga ana jalma sing durung mangsane; aja sirik aja gela; iku dudu wektunira; nganggo simbol ratu tanpa makutha; mula sing menangi enggala den leluri; aja kongsi zaman kendhata madhepa den marikelu; beja-bejane anak putu
(jangan heran, jangan bingung; itulah putranya Batara Indra; yang sulung dan masih kuasa mengusir setan; turunnya air brajamusti pecah memercik; hanya satu ini yang dapat memberi petunjuk tentang arti dan makna ramalan saya; tidak bisa ditipu; karena dapat masuk ke dalam hati; ada manusia yang bisa bertemu; tapi ada manusia yang belum saatnya; jangan iri dan kecewa; itu bukan waktu anda; memakai lambang ratu tanpa mahkota; sebab itu yang menjumpai segeralah menghormati; jangan sampai terputus, menghadaplah dengan patuh; keberuntungan ada di anak cucu)

172.
iki dalan kanggo sing eling lan waspada; ing zaman kalabendu Jawa; aja nglarang dalem ngleluri wong apengawak dewa; cures ludhes saka braja jelma kumara; aja-aja kleru pandhita samusana; larinen pandhita asenjata trisula wedha; iku hiya pinaringaning dewa
(inilah jalan bagi yang ingat dan waspada; pada zaman kalabendu Jawa; jangan melarang dalam menghormati orang berupa dewa; yang menghalangi akan sirna seluruh keluarga; jangan keliru mencari dewa; carilah dewa bersenjata trisula wedha; itulah pemberian dewa)

173.
nglurug tanpa bala; yen menang tan ngasorake liyan; para kawula padha suka-suka; marga adiling pangeran wus teka; ratune nyembah kawula; angagem trisula wedha; para pandhita hiya padha muja; hiya iku momongane kaki Sabdopalon; sing wis adu wirang nanging kondhang; genaha kacetha kanthi njingglang; nora ana wong ngresula kurang; hiya iku tandane kalabendu wis minger; centi wektu jejering kalamukti; andayani indering jagad raya; padha asung bhekti
(menyerang tanpa pasukan; bila menang tak menghina yang lain; rakyat bersuka ria; karena keadilan Yang Kuasa telah tiba; raja menyembah rakyat; bersenjatakan trisula wedha; para pendeta juga pada memuja; itulah asuhannya Sabdopalon; yang sudah menanggung malu tetapi termasyhur; segalanya tampak terang benderang; tak ada yang mengeluh kekurangan; itulah tanda zaman kalabendu telah usai; berganti zaman penuh kemuliaan; memperkokoh tatanan jagad raya; semuanya menaruh rasa hormat yang tinggi)

Sampai di sini kita akan dapat mulai memahami siapakah yang dikatakan oleh Joyoboyo dengan istilah Putra Betara Indra itu ? Bait-bait tersebut telah mengurai secara rinci tentang ciri-ciri dan karakter orang tersebut. Putra Betara Indra tidak lain dan tidak bukan adalah Waliyullah (aulia) yang tertulis di dalam sinom bait 28 pada Kitab Musarar Joyoboyo. Perlambang paras Kresna dan watak Baladewa bermakna satria pinandhita. Karena hakekat dua bersaudara Kresna dan Baladewa (Krishna Balarama) melambangkan kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Dimana Kresna melambangkan pencipta, sedangkan Baladewa melambangkan potensi kreativitas-Nya. Dua bersaudara Kresna dan Baladewa menghabiskan masa kanak-kanaknya sebagai penggembala sapi. Dengan hakekat ini setidaknya kita dapat meraba bahwa Putra Betara Indra adalah juga Pemuda Gembala (budak angon) yang telah dikatakan oleh Prabu Siliwangi di dalam Uga Wangsit Siliwangi.

Ramalan Tujuh Satrio Piningit Ronggowarsito
Di dalam ramalan Ronggowarsito dipaparkan ada tujuh satrio piningit yang akan muncul sebagai tokoh yang dikemudian hari akan memerintah atau memimpin wilayah seluas wilayah “bekas” kerajaan Majapahit , yaitu : Satrio Kinunjoro Murwo Kuncoro, Satrio Mukti Wibowo Kesandung Kesampar, Satrio Jinumput Sumelo Atur, Satrio Lelono Topo Ngrame, Satrio Hamong Tuwuh, Satrio Boyong Pambukaning Gapuro, Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu.

Selain masing-masing satrio itu menjadi ciri-ciri dari masing-masing pemimpin NKRI pada setiap masanya (seperti yang tertulis di dalam Surat Terbuka kepada SBY), ternyata tujuh satrio piningit itu melambangkan tujuh sifat yang menyatu di dalam diri seorang pandhita yang telah kita tahu adalah Putra Betara Indra = Waliyullah = Pemuda Gembala (budak angon) seperti telah diungkap di atas. Sifat-sifat itu bisa kita urai sbb :

  1. Satrio Kinunjoro Murwo Kuncoro
    melambangkan orang yang sepanjang hidupnya terpenjara namun namanya harum mewangi. Sifat ini hanya dimiliki oleh orang yang telah menguasai Artadaya (ma’rifat sebenar-benar ma’rifat). Diberikan anugerah kewaskitaan atau kesaktian oleh Allah SWT, namun tidak pernah menampakkan kesaktiannya itu. Jadi sifat ini melambangkan orang berilmu yang amat sangat tawadhu’.
  2. Satrio Mukti Wibowo Kesandung Kesampar
    melambangkan orang yang kaya akan ilmu dan berwibawa, namun hidupnya kesandung kesampar, artinya penderitaan dan pengorbanan telah menjadi teman hidupnya yang setia. Tidak terkecuali fitnah dan caci maki selalu menyertainya. Semua itu dihadapinya dengan penuh kesabaran, ikhlas dan tawakal.
  3. Satrio Jinumput Sumelo Atur
    melambangkan orang yang terpilih oleh Allah SWT guna melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjalankan missi-Nya. Hal ini dibuktikan dengan pemberian anugerah-Nya berupa ilmu laduni kepada orang tersebut.
  4. Satrio Lelono Topo Ngrame
    melambangkan orang yang sepanjang hidupnya melakukan perjalanan spiritual dengan melakukan tasawuf hidup (tapaning ngaurip). Bersikap zuhud dan selalu membantu (tetulung) kepada orang-orang yang dirundung kesulitan dan kesusahan dalam hidupnya.
  5. Satrio Hamong Tuwuh
    melambangkan orang yang memiliki dan membawa kharisma leluhur suci serta memiliki tuah karena itu selalu mendapatkan pengayoman dan petunjuk dari Allah SWT. Dalam budaya Jawa orang tersebut biasanya ditandai dengan wasilah memegang pusaka tertentu sebagai perlambangnya.
  6. Satrio Boyong Pambukaning Gapuro
    melambangkan orang yang melakukan hijrah dari suatu tempat ke tempat lain yang diberkahi Allah SWT atas petunjuk-Nya. Hakekat hijrah ini adalah sebagai perlambang diri menuju pada kesempurnaan hidup (kasampurnaning ngaurip). Dalam kaitan ini maka tempat yang ditunjuk itu adalah Lebak Cawéné = Gunung Perahu = Semarang Tembayat.
  7. Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu
    melambangkan orang yang memiliki enam sifat di atas. Sehingga orang tersebut digambarkan sebagai seorang pandhita atau alim ulama yang selalu mendapatkan petunjuk dari Allah SWT. Maka hakekat Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu adalah utusan Allah SWT atau bisa dikatakan seorang aulia (waliyullah).

KESIMPULAN SEMENTARA

Dari apa yang telah saya ungkapkan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan sementara sebagai berikut :

  1. Satrio Piningit Pinandhita Sinisihan Wahyu yang diungkapkan oleh R.Ng. Ronggowarsito (1802 – 1873) adalah Pemuda Gembala (budak angon) yang dikatakan oleh Prabu Siliwangi (1482 – 1521) di dalam wangsitnya, juga adalah Putra Betara Indra (waliyullah) seperti yang telah ditulis oleh Joyoboyo (1135 – 1157). Dengan tafsir warisan karya leluhur tersebut di atas, dapat digambarkan bahwa seseorang yang dikatakan Satrio Pinandhita itu adalah orang Islam berdarah sunda namun menguasai dan memegang teguh kawruh (ajaran/ilmu) Jawa. Dan orang tersebut memiliki 7 sifat satrio di atas yang telah melebur di dalam dirinya.
  2. Lokasi yang dikatakan Lebak Cawéné oleh Prabu Siliwangi adalah juga Gunung Perahu menurut Joyoboyo, dan tempatnya di Semarang Tembayat seperti juga telah diungkapkan oleh Joyoboyo. Ditambahkan dengan gambaran spiritual menurut bapak Tri Budi Marhaen Darmawan di atas, maka tempat itu memiliki ciri-ciri terdapat 2 sumber air besar, 3 pohon beringin, dan keberadaan watu gilang. Diperkirakan tempat itu di pinggiran kota Semarang arah barat daya.

Mengapa saya katakan sebagai kesimpulan sementara ? Karena kesimpulan akhir ada pada tulisan : Menelisik Misteri Sabdo Palon. Selamat membaca…

(nurahmad)

Published in: on Juni 10, 2007 at 1:52 pm  Comments (128)  
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 86 pengikut lainnya.