Sasmita Nusantara : Gempa Padang

Oleh : Tri Budi Marhaen Darmawan

Rabu sore 30 September 2009 jam 17.16 wib Ranah Minangkabau (Padang sekitarnya) digoyang gempa bumi yang menghancurkan dengan kekuatan 7,6 skala richter. Kejadian ini memakan begitu banyak korban jiwa baik yang tewas maupun luka-luka, dan entah berapa lagi yang masih belum diketemukan karena tertimbun puing-puing reruntuhan bangunan dan tanah longsor. Singkat kata, Padang luluh lantak dalam sekejap dan hingga kini meninggalkan kepedihan yang sangat memilukan. Kembali kenyataan ada di hadapan kita sebuah musibah tragis kembali terjadi dari sekian banyak rangkaian bencana yang melanda negeri ini sejak kejadian Tsunami Aceh di penghujung tahun 2004. Ada hakekat apa di balik ini semua ? Dalam kurun waktu ini apakah kita telah belajar dari segala musibah yang terjadi sebagai buah introspeksi diri ? Atau jangan-jangan kita telah terbiasa dengan segala musibah yang ada. Rasa empati, duka dan kesedihan hanya berlangsung selayang pandang untuk kemudian merasa biasa-biasa saja kembali tanpa ada hikmah bagi perubahan sikap moral kita ?

Kembali perlu digarisbawahi sebagai pengingatan kembali kita semua di dalam memandang kejadian-kejadian di hadapan kita. Sejatinya “Tidak ada yang namanya Kebetulan. Semua kejadian di dalam kehidupan ini sekecil apapun adalah merupakan Ketetapan yang Ditetapkan-Nya.” Segala apa yang terjadi pada diri dan juga di hadapan diri adalah merupakan Potret atau Citra diri, baik itu personal individu, keluarga, lingkungan masyarakat, institusi, bangsa atau negara, dan bahkan jagad dunia. Dalam hal ini lebih menunjuk kepada Potret atau Citra Batin yang merupakan Pancaran Batin. Karena yang bersifat lahir selalu dapat menipu daya, sedangkan sifat batin selalu apa adanya. Baik akan terlihat baik dan buruk akan terlihat buruk. Sesuatu yang lahir dapat didekati dengan yang lahir (tetapi nisbi). Namun batin tidak akan mampu didekati dengan yang lahir. Sebaliknya batin akan mampu mendekati dan menembusi baik yang lahir maupun batin (bersifat mutlak). Dan Batin inilah Sang Pemimpin Diri. Sehingga untuk tiap-tiap tingkatan lingkungan (jagad kecil – jagad besar) yang terpancar adalah Citra atau Potret “Sang Pemimpin”.

Gempa yang terjadi di Padang adalah Sasmita Nusantara. Padang dalam bahasa Jawa berarti “Terang atau Bercahaya.” Jika saat ini Padang hancur, maknanya tidak ada Terang alias Gelap. Bahkan dari kejadian akibat gempa itu merupakan gambaran Kegelapan yang memilukan dan menimbulkan berbagai kesulitan. Hari Rabu 30 September 2009 jam 17.16 wib dimana bencana itu datang, dalam perhitungan Jawa telah memasuki hari Kamis (Respati) Pahing 1 Oktober 2009, lambang wukunya (Julungwangi) adalah Betara Kala (letaknya Barat), Dasawaranya adalah Raja/pemimpin dengan lambang Sanghyang Rudra (menghancurkan), Paarasannya Lakuning Bumi, dan Pancasudanya adalah Lebu Katiup Angin (hidup serba kekurangan dan kesulitan, jauh dari keberuntungan). Dan ingatkah kita bahwa tanggal itu merupakan hari Kesaktian Pancasila ? Ini merupakan bukti gambaran bahwa Burung Garuda sebagai pusaka negeri ini telah murka karena Pancasila sebagai “pedoman hidup” bangsa tidak ditegakkan di negeri Nusantara ini, bahkan telah disia-siakan dan disalahgunakan. Sehingga bangsa ini diibaratkan sudah tidak lagi memiliki pedoman hidup (bhs Jawa : Pepadang) dan artinya ada di dalam kegelapan. Seseorang dalam kegelapan karena tidak memahami hidupnya. Hidup sekedar hidup-hidupan (Jawa : Urip-uripan). Hidupnya hanya terjebak kepada rutinitas hidup yang lebih berorientasi lahiriah. Begitu pula yang terjadi pada bangsa di negeri ini (baca : Sasmita Narendra Nusantara – Mbah Surip dan WS Rendra). Pada akhirnya yang terasa adalah sangat jauh dari Ridho Allah Azza wa Jalla, karena telah “ditinggalkan” oleh Sang Maha Hidup.

Minang Kabau adalah melambangkan Tanduk Kerbau. Minang berarti taji yang tajam dan runcing. Dan kerbau adalah merupakan kendaraan dari Dewa Rudra, yaitu dewa penghancur. Ini berarti sasmita budak angon tengah menggiring 18 kerbau dari selatan ke utara mulai menjadi kenyataan. Selatan ke utara merupakan lambang yang gaib atau sirr menjadi wujud atau menampak. Angka 18 merupakan lambang 8 penjuru mata angin dan 1 adalah pancernya. Namun yang terdengar hanya suara gentanya saja. Hal ini bermakna seperti angin, dari mana dan kapan datang perginya kita semua tidak tahu. Setidaknya ada suatu gambaran dengan kehancuran yang terjadi di Ranah Minangkabau merupakan perlambang bahwa Kerbau-kerbau telah mengamuk memainkan tanduknya yang mematikan. Waspadalah.. Dan ini bermakna bahwa yang mampu mengendalikan kerbau-kerbau ini adalah “Budak Angon” (seperti yang tertulis di dalam Uga Wangsit Siliwangi : “orang sunda dipanggil-panggil.., orang sunda memberi ampunan..”).

Di balik kejadian ini dari semua uraian di atas mengandung suatu makna pesan pada bangsa negeri ini sama hakekatnya dengan kehadiran Nabi Isa di jamannya. “Barangsiapa percaya kepada Allah, ia tidak akan dihukum. Barangsiapa tidak percaya Allah, ia telah berada di bawah hukuman. Karena ia tidak percaya.. Inilah hukuman itu.. Terang telah datang ke dalam dunia. Tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang. Sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang. Dan tidak datang kepada terang itu. Supaya perbuatan-perbuatan-Nya yang jahat itu tidak nampak. Tapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang. Supaya jadi nyata bahwa perbuatannya dilakukan dalam Allah.” Dan Gempa Padang merupakan lambang pesan yang menyiratkan bahwa “Terang” (Pepadang atau Cahaya Ilahiah) itu telah turun di bumi Nusantara ini guna menuntun dan memberi petunjuk bagi hamba yang sadar dan berada di jalan Kebenaran (wong kang eling lan waspada). Namun sebaliknya Cahaya Kasih Terang itu akan menyilaukan bahkan menghancurkan hamba-hamba sombong (Sumbar) yang berada di dalam Kegelapan.

Akhirnya dengan kejadian musibah Gempa Padang ada baiknya kita renungkan ayat-ayat yang menjelaskan maksud pesan kejadian itu, yaitu QS 16. An Nahl : 90 s/d 100, dan QS 10. Yunus : 93 s/d 103. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada para “Pemimpin” kita semua. Amin.

(Sang Raja Paksi “Garuda” telah turun ke bumi dari swargaloka menyusul sang majikan Sanghyang Ismoyo yang terlebih dahulu datang di Alas Sunyaruri. Namun kepakan sayapnya yang kuat meleburkan segala sesuatu yang dilalui. Saat ini Sanghyang Narayana telah berdiri tegak di tempatnya berpijak di tiga alam (tri loka) dengan membawa Kitab Suci di tangan kanan dan senjata Trisula Gana Suci di tangan kiri. Itulah tanda segala Pancer dari seluruh unsur telah menyatu dalam satu Kedhaton : Sri Bima Punta Narayana Mandura Suradipati.)

Selasa (Anggara) Pahing, 6 Oktober 2009

Published in: on Oktober 6, 2009 at 9:37 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://nurahmad.wordpress.com/2009/10/06/sasmita-nusantara-gempa-padang/trackback/

%d blogger menyukai ini: