Sasmita Negeri “PRABOWO vs JOKOWI”

Oleh : Tri Budi Marhaen Darmawan

Prabowo VS Jokowi

Selama kurun waktu 500 tahun semenjak kehancuran Majapahit dari bumi Nusantara yang sempat berjaya selama kurang lebih setengah abad dari 200 tahun perjalanannya, kini sosok mahluk Nusantara yang terlahir dari prakarsa Maha Patih Gajah Mada tengah menggeliat memasuki alam kesadarannya. Diibaratkan seperti baru saja terbangun dari tidurnya yang panjang terbuai frekuensi Alpha di alam ketidaksadaran. Satu dasawarsa berjalan dari titik dimulainya Pemilu Presiden secara terbuka oleh rakyat di tahun 2004, Nusantara mulai memasuki ranah frekuensi Beta dimana secara berangsur masuk dalam alam kesadaran awal walau belum sepenuhnya sadar. Di dalam periode itulah kita semua menyaksikan dan mengalami berbagai bencana alam dan kecelakaan berskala besar, yaitu diawali dengan bencana Tsunami Aceh, meletusnya gunung Merapi yang kemudian disusul dengan gempa Jogja, dan berikutnya muncul bencana semburan lumpur Lapindo di Sidoarjo yang masih terus berjalan dan masih menyisakan penderitaan bagi para korban hingga saat ini. Bencana-bencana lainpun terus menyusul seperti gempa Padang dan tsunami Mentawai, meletusnya kembali gunung Merapi yang banyak membawa korban termasuk mbah Marijan, tenggelamnya pesawat Adam air dan juga Kapal penumpang Senopati Nusantara yang hingga kini tak dapat diketemukan, jatuhnya pesawat Sukhoi di gunung Salak, serta serangkaian bencana lain hingga yang terakhir kemarin adalah meletusnya gunung Sinabung dan juga Kelud.

Semestinya kita semua tidak boleh melupakan segala kejadian itu. Karena secara metafisis ada rangkaian pesan dan hakekat di balik semua kejadian tersebut. Sejatinya kejadian alam itulah yang berulang-ulang membangunkan kesadaran kita dengan segala kejutannya. Tapi nampaknya kita semua masih dianggap belum sepenuhnya menyadari berbagai pesan yang tersirat di balik kejadian-kejadian itu. Tak ada hikmah apapun yang mampu dipetik, bahkan seringkali terlupakan setelah kejadian berlalu. Maka dengan adanya fenomena semua gunung-gunung dalam kondisi aktif di tataran nusantara ini mengisyarahkan bahwa alam akan masih terus mengingatkan kita semua, terutama para elite pemimpin. Karena pemimpin adalah representasi dari seluruh rakyatnya.

Aktivitas Gunung Sinabung yang kembali mengeluarkan semburan abu vulkanik di lihat dari Desa Tiga Pancur, Kabupaten Karo, Sumut, Selasa (5/11)Meletusnya gunung Sinabung di Sumatra Utara sejatinya merupakan rangkaian aksara dewa yaitu “Sing Nang Bang Ung”. Dalam tatanan Dewata Nawa Sanga, SING = Dewa Sangkara (barat laut), NANG = Dewa Maheswara (tenggara), BANG = Brahma (selatan), dan UNG = Wisnu (utara). Sehingga merupakan isyarah akan datangnya daya kesadaran yang membangunkan kekuatan jiwa raga yang akan membawa kemakmuran. Kekuatan kesadaran setelah mengingati kembali akan penciptaan awal termasuk menghormati kembali para leluhur nusantara (SING). Diiring dengan daya kasih sayang dengan wujud adanya prabawa yang mengembalikan kepada spirit yang murni yaitu kembali kepada jati diri (NANG). Daya yang akan menyucikan atau membersihkan untuk kemudian menciptakan suasana baru yang lebih bersih (BANG). Sehingga segala sesuatunya menjadi tertata dengan baik dan serasa mendapati hidup baru (UNG). Dan Sumatra Utara mengisyarahkan SOMA awaTaRA ring UTtARA yang merujuk kepada WISNU sebagai simbol “Wahyu” yang turun.

Maka ketika gunung Sinabung di titik barat laut nusantara meletus (lambang SING) yang arah laharnya seringkali mengarah ke arah tenggara, kemudian disusul gunung Kelud di Kediri Jawa Timur meletus (titik tenggara dari lokasi Sinabung). Hal ini merupakan isyarah sebagai hakekat NANG yaitu menyapu atau membersihkan diri untuk kembali kepada jati diri, kembali kepada asal muasal (wiwitaning/wetan/timur) Jawa sebagai hakekat penciptaan awal yaitu ingsun (Jiwa – Jawi – Jawa). Maka saat gunung Kelud meletus, yang paling parah terkena dampak hujan debu vulkaniknya adalah wilayah Jogja – Solo. Hal itu memberikan pesan berkaitan dengan gunung Merbabu – Merapi sebagai lambang hidupnya Api Brahma (BANG), yaitu daya penyucian dan penciptaan atau wilayah kidul (selatan) sebagai lambang Sirrullah. Di sinilah terdapat sandi “Tampak Siring”, yaitu Utara – Selatan. Utara adalah lambang Wujudullah (tampak) dan Selatan adalah lambang Sirullah (siring) yang bermakna bahwa yang Sirr (rahasia) akan mewujud (nampak). Di Selatan adalah posisi gunung Merbabu – Merapi, sedangkan di Utaranya adalah gunung Ungaran (wilayah Semarang). Semar adalah ANG (aksara Wisnu). Maka ketika Wisnu turun aksaranya adalah UNG. UNG arane (namanya). Sehingga sejatinya semua perlambang itu mengisyarahkan turunnya Semar atau Sang Sabdo Palon itu sebagai hakekat “Wahyu Keprabon (Wahyu Cakraningrat)”. Hal itu melambangkan bahwa seorang pemimpin yang hak dan amanah haruslah yang memiliki wahyu itu sehingga mampu mewujudkan Keselamatan dan Kesejahteraan bagi seluruh rakyat dan negara. Maka di malam Super Semar 11 Maret 2014 yang lalu gunung Selamet meletus memberikan tanda sebagai isyarah tentang itu. Karena Semar sejatinya adalah Guru Raja yang dilambangkan dengan para Ksatria Pandawa sebagai muridnya. Di dalam proses kenyataannya kita semua hanya akan bisa merasakan daya-dayanya yang muncul dalam kejadian-kejadian nyata berkaitan dengan situasi kepemimpinan nusantara dan kondisi negeri.

semar dan pandawa lima

Pasca pungkasan Pemilu Legislatif 9 April 2014 yang lalu, di saat ini kita baru saja menyaksikan ephoria para elite partai yang sibuk bermanuver menjajagi dalam pembentukan koalisi menjelang hajat Pemilu Presiden 9 Juli 2014 yang akan datang. Dari dimensi spirit “hakekat”, fenomena ini begitu sarat dengan perlambang berupa simbol dan asma yang juga menyiratkan isyarah sebagai rambu pergerakan “daya” yang mengandung “hakekat”. Tentu saja penulis memandang berdasarkan persepsi yang selaras dengan alur segala apa dan bagaimana yang telah penulis ungkapkan di dalam blog ini di dalam Menyibak Tabir Misteri Nusantara. Memandang kenyataan yang bersifat sunyata (kasunyatan) sebagai upaya memfisiskan dari yang bersifat metafisis dengan berpijak pada hakekat kawruh / ajaran / suluk / gama ketauhidan leluhur nusantara dan juga kenabian dalam perjalanan spiritual penulis. Sangat menarik bagi penulis untuk menyoroti fenomena yang begitu sarat dengan simbol yang ada di seputaran sosok capres Prabowo Subiyanto dan juga Jokowi dalam pergerakan langkah politiknya hingga telah dideklarasikannya pencalonan pasangan masing-masing bersama koalisi partai masing-masing. Pasangan capres / cawapres Prabowo – Hatta Rajasa yang diusung oleh partai Gerindra, PPP, PKS, PAN, PBB, dan Golkar, sementara di sisi lain pasangan Jokowi – Jusuf Kalla diusung oleh PDIP, Nasdem, PKB, dan Hanura.

Sementara itu penulis telah mengungkapkan tentang isyarah hilangnya pesawat “Adam” Air dan juga Kapal penumpang “Senopati Nusantara” dalam “Kontemplasi Nusantara” yang menyiratkan bahwa kita harus kembali kepada Kesejatian Diri (Adam). Karena bangsa ini telah meninggalkan kesejatian diri maka jiwa-jiwa Senopati Nusantara (ksatria) pun telah sirna. Maknanya bangsa ini membutuhkan sosok pemimpin yang Adam, yang Sejati, atau dengan kata lain sebagai isyarah akan munculnya pemimpin yang sejati yang akan mampu memberikan teladan dan mengembalikan jiwa-jiwa Senopati Nusantara. Ibarat hakekat perjalanan Mi’raj yang dilakukan oleh Muhammad Rasulullah dimana sebagai lambang kesadaran untuk menuju kepada Allah awalnya melewati langit pertama yang dijaga Nabi Adam. Adam tanpa Hawa, bermakna kembali kepada genesis (awal mula penciptaan) yaitu kembali kepada kesejatian tanpa hawa nafsu yang seringkali mudah terbujuk oleh bujuk rayu setan iblis. Perlambang inilah yang pada kenyataannya sedang kita hadapi saat ini yaitu dengan munculnya sosok capres yang bernama Joko Widodo atau dikenal dengan Jokowi. Kalau menurut plesetan orang jawa dikatakan : “Yo sing Joko kuwi..”. Joko berarti sejati, atau sama maknanya dengan Jejaka / Perjaka yang mengandung arti masih lajang belum memiliki pendamping sosok hawa. Namun di sisi lain sosok capres lainnya yang bernama Prabowo Subiyanto dalam kenyataannya memang benar-benar sendiri (single) sebagai lambang Adam tanpa Hawa. Maka seseorang yang telah mencapai kesejatian (Adam) dipastikan bersifat ksatria (berani, jujur, tegas, dan bijaksana). Ksatria dalam arti karena terdedikasi memiliki keberanian dalam berperang melawan dirinya sendiri yaitu melawan hawa-hawa nafsunya. Sekarang tinggal manakah yang “Sejati” diantara dua sosok capres tersebut ? Tentu masing-masing pembaca memiliki penilaiannya sendiri.

Setelah Jokowi dideklarasikan sebagai capres oleh PDIP, partai yang pertama kali merapat sebagai mitra koalisi adalah Nasdem dengan ketua umumnya adalah Surya Paloh. Penulis melihat nama Surya Paloh adalah melambangkan pusaka SURYA PANULUH (SP) milik Gajah Mada yang dihunus ketika mengucap Sumpah Amukti Palapa. Hanya saja persoalannya di tangan Jokowi pusaka ini berdaya paNAS aDEM atau membuat suasana menjadi panas – dingin. Maka jika sebuah pusaka itu hak dan sesuai dengan pemegangnya, biasanya akan menciptakan suasana adem atau tenang bagi si pemegang pusaka. Namun jika tidak sesuai maka suasana panas yang akan muncul dan sangat berpengaruh bagi pemegangnya dan juga lingkungannya. Selanjutnya setelah PKB bergabung dalam koalisi, kemudian akhirnya disusul oleh HANURA dengan ketua umumnya adalah Wiranto. Sehingga bagi Jokowi dengan simbol dan perlambang itu digambarkan sebagai Satria Wirang. Purna sudah pada fase ini setelah ditetapkan pasangannya sebagai cawapres yaitu Jusuf Kala.

JKW4P JK4WP

Seperti apa yang telah diungkapkan di dalam tulisan “Menuju Jaman Baru”, bahwa saat ini ke depan dalam hal kepemimpinan nusantara masih berada di wilayah Satria Boyong Pambukaning Gapura. Berikut kutipannya : “Seperti telah diurai dalam blog ini mengenai ramalan 7 (tujuh) Satria Piningit yang bakal memimpin NKRI, saat ini kita berada pada masa Satria Piningit ke 6 (enam) yaitu Satria Boyong Pambukaning Gapura. Dalam Serat Musarar Jayabaya, kita sekarang berada pada masa “Tan kober apepaes tan tinolih sinjang kemben” yakni lambang pemimpin yang tak sempat mengatur negara karena direpotkan dengan berbagai masalah. Hingga digambarkan banyak terjadi bencana dan musibah, negara dikatakan rusak dan hukum tidak karu-karuan, dan sebagainya. Segala situasi yang terjadi disebabkan karena bangsa ini tengah berada di puncak degradasi moral yang sangat parah. Nampaknya sejauh ini Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono/SBY sebagai Satria BoYong tidak mampu membuka “Gapura” sebagai prasyarat bagi Kejayaan Nusantara. Sehingga dari dimensi spiritual misteri Nusantara, fase ini harus digenapi.”

Hal lain lagi diungkapkan : “Isyarah tentang “Kebangkitan Majapahit” di balik fenomena Semburan Lumpur Lapindo di Sidoarjo bukanlah berarti bahwa kita akan kembali ke era kerajaan seperti dahulu kala. Namun dari kacamata hakekat mengandung makna bahwa negeri ini akan menjadi sejahtera (Sidoarjo), untuk itu semua kekotoran yang terpendam selama ini karena sengaja ditutupi, akan ditumpas habis. Dan daya semesta akan berjalan selaras dengan itu, sehingga tak ada seorang manusiapun yang mampu menghalangi. Daya Kebangkitan Majapahit sebagai perlambang yang akan mampu merubah segala carut marut yang terjadi kurun waktu ini. Hal ini mengandung makna bahwa jika kita ingin kembali mengobarkan semangat MAJAPAHIT, tentu kita semua harus MAu JAlan PAHIT. Dan untuk bisa MAju dan JAya maka harus berani PAHIT. Merajut kembali Nusantara, berarti harus kembali merajut Majapahit, yaitu menghubungkan kembali secara hakekat mata rantai yang terputus (missing link). Keberadaan Majapahit terakhir adalah Majapahit di Daha di bawah pemerintahan Girindrawardhana (Dyah Ranawijaya) tahun 1486 – 1527 yang memiliki ayah bernama Suraprabawa (Singhawikramawardhana), memerintah tahun 1466 – 1474. Inilah isyarah di balik fenomena Semburan Lumpur Lapindo yang ada di wilayah Daha di masa lalu, jika kita kaitkan dengan masalah kepemimpinan nasional. Kata sandinya adalah GIRINDRAwardhana yang memiliki bapak SuraPRABAWA. Girindra berarti Raja Gunung atau bermakna sangat kokoh dan kuat, sedangkan Wardhana bermakna anugerah dari Sang Pencipta atau yang menyebabkan berlebih. Sura berarti orang yang kuat memahami yang nyata dan tak nyata (fisik dan metafisik), sedangkan Prabawa bermakna pancaran kewibawaan atau kharismatik. Jangan memandang ungkapan ini secara syari’at atau lahiriah yang tertulis, namun hakekat karakter pemimpin inilah yang dibutuhkan negeri ini yang akan mampu membersihkan “kekotoran” negeri ini. Mampu menjadi LAPINDO yang bermakna LAP adalah kain pembersih atau Alap-Alap (penyikat) INDOnesia, sehingga mampu membersihkan dari segala yang kotor. Karakter pemimpin inilah yang dibutuhkan negeri ini ke depan sehingga mampu membawa bangsa ini kembali memasuki Gapura Mas menuju Kejayaan Nusantara seperti yang telah dirintis oleh Gajah Mada Maha Patih Majapahit ketika itu. Siapapun sosok itu dan siapapun namanya.. Dari Majapahit kembali menuju Pajajaran, yang pada akhirnya terwujud situasi yang sejajar diantara keberagaman yang ada. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Tak ada diskriminasi antara satu dengan yang lainnya dengan nafas saling menghormati, beradab dan berkeadilan.”

Prabowo Hatta

Inisial Satria Boyong Pambukaning Gapura yaitu SBYPG sangatlah identik dengan nama SuBiYanto Prabowo Gerindra. Banyak hakekat yang menarik dari munculnya simbol-simbol sepanjang proses koalisi partai-partai yang mendukung pencapresan Prabowo Subiyanto yang diusung oleh Gerindra. Karena segala kejadian di dalam sebuah proses adalah merupakan isyarah itu sendiri yang mengandung hikmah. Untuk pertama kalinya PPP dengan ketua umumnya Surya Dharma Ali merapat berkoalisi mendukung Prabowo setelah harus melalui perdebatan sengit di internal PPP. Keteguhan hati Seorang Surya Dharma Ali didalam mempertahankan kebenarannya pada akhirnya diamini segenap organ internal PPP dan membuahkan legitimasi formal tetap mendukung Prabowo. Gerindra dengan lambang Garuda bertemu dengan PPP berlambang Ka’bah. Penulis melihat simbol ini sebagai isyarah istimewa tentang kepemimpinan masa depan yang akan muncul setelah melalui era Satrio Boyong Pambukaning Gapuro dengan perlambang “Tunjung Putih semune Pudhak Kesungsang”, yaitu pemimpin yang berhati bersih namun masih tersembunyi. Dikatakan bahwa pemimpin tersebut “Kadhatone pan kekalih, Ing Mekah ingkang satunggal, Tanah Jawi kang sawiji” (Kedhatonnya ada dua, di Mekah yang satu, dan satunya lagi Tanah Jawi). Tanah Jawi adalah Nusantara yang dilambangkan dengan Garuda dan Mekah yang dilambangkan dengan Ka’bah. Sinergisitas hakekat kedua simbol tersebut memiliki daya Prabawa – Surya Dharma Ali, yang bermakna sebagai kekuatan cahaya penerang atau pencerahan dalam pelaksanaan dharma (jalan kebenaran) seperti halnya yang diteladani oleh Sayiddina Ali salah seorang sahabat Rasulullah Muhammad SAW. Kemudian bergabunglah PAN dengan ketua umumnya Hatta Rajasa sebagai simbol datangnya Matahari itu yang memberikan cahaya terang atau sebagai simbol turunnya Amanah Nasional kepada Prabowo. RA-jasa bermakna Matahari yang berjasa. RA = Matahari. Atau Raja-SA, SA adalah aksara dewa dari Iswara atau Dewa Surya itu sendiri di titik Timur yang menjadi Raja (pemimpin). Hakekatnya adalah pemimpin yang memiliki sifat seperti Matahari, mencerahkan karena mengerti segala persoalan dengan terang benderang dan bersifat adil serta konsisten. Sehingga dengan ditetapkannya Prabowo – Hatta Rajasa sebagai capres dan cawapres, maka memiliki makna bahwa Prabowo – Hatta Rajasa adalah ibarat Matahari dan cahayanya bagi rakyat negeri ini ke depan. Berikutnya barulah kemudian PKS bergabung sebagai simbol datangnya Keadilan dan Kesejahteraan setelah segala sesuatunya terang benderang karena pencerahan. Ketiga partai berbasis Islam itu kemudian disahkan dan distempel oleh PBB dengan simbolnya Bulan Bintang sebagai lambang Islam yang satu. Ibarat bulan dan bintang pun mencari cahayanya yang bersumber dari Matahari. Sehingga lengkaplah segala sesuatunya dilambangkan pertemuan Matahari, Bulan dan Bintang dengan adanya persatuan. Dan berikutnya pada detik-detik terakhir menjelang deklarasi Prabowo – Hatta Rajasa, Golkar yang bersimbol pohon beringin pun secara tidak terduga-duga ikut bergabung dalam koalisi sebagai lambang pemberian legitimasi bahwa ”persatuan” itulah yang diharapkan sebagai prasyarat tercapainya keadilan dan kesejahteraan rakyat. Sebuah simbol yang luar biasa hebatnya. Diibaratkan empat madzab Islam di Nusantara bersatu dalam naungan Garuda (Pancasila) sebagai ideologi NKRI. Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa = Berbeda-beda namun tetap satu, tiada kebenaran yang mendua.

suryamajapahitgold (1)

Bagi penulis yang selama kurun waktu 10 tahun ini menjalani perjalanan spiritual menembusi misteri nusantara, menganggap sangat pentingnya simbol ”Matahari”. Karena hakekat Matahari yang disebut dengan RA itulah yang harusnya kita tuju. RA inilah yang diperlambangkan oleh leluhur kita dengan istilah ”Ratu Adil” yang sangat lekat ketika kita berbicara tentang Satria Piningit, pemimpin sejati yang dinanti-nanti. Dalam konteks ini sesungguhnya semua presiden NKRI dari yang pertama hingga yang sekarang pun adalah Satria Piningit. Karena sebelum mereka menjadi presiden, kita semua tidak mengetahuinya. Sama artinya seperti yang akan menjadi Presiden NKRI 2014 – 2019 nantinya pun kita belum bisa mengetahuinya walaupun saat sekarang ini sudah terlihat semakin mengerucut. Sehingga siapapun yang menjadi Presiden nantinya dia adalah seorang mantan Satria Piningit. Karena sudah tidak Piningit (tersembunyi) lagi. Sudah muncul dan di ketahui oleh banyak orang. Hanya saja kita akan selalu menanti yang terbaik yang benar-benar bisa menyejahterakan seluruh rakyat, memakmurkan negeri ini dan memimpin bangsa dengan adil dan bijaksana. Bagi yang meyakini dalam hal kehadiran Satria Piningit dengan pijakan wasiat leluhur nusantara pun sesungguhnya hanya mampu meraba untuk mengenali situasi keadaan jaman dengan perlambang kepemimpinannya, yang lebih dalam akan mengenali sandi-sandinya. Semua itu bagi yang memiliki kesadaran spiritual dimaksudkan agar supaya tidak terjebak dalam tipu daya kehidupan, untuk senantiasa tetap Eling dan Waspada. Apalagi yang umum terjadi banyak yang terjebak dengan mengaku-aku sebagai Satria Piningit ataupun Ratu Adil dengan segala versinya. Padahal sejatinya diri kita semua adalah Satria Piningit. Untuk melakukan perjalanan menemukan jati diri kita yaitu jiwa yang piningit itu dibutuhkan sifat ksatria, karena harus terus menerus berperang melawan nafsu-nafsu yang ada di dalam diri dan pantang khianat. Dan jiwa itulah Matahari yang ada di dalam setiap diri manusia. RA itulah yang kita tuju. RA itu sejatinya adalah ”Ridho Allah.” Illahi anta maqsudi wa ridhoka mathlubi (tujuanku hanya Allah, dan yang kucari hanyalah Ridho Allah semata). Dengan menggapai MATAHARI itulah kita akan memahami MA’rifat (mengenali) – TArekat (menjalani) – HAkekat (kebenaran sejati) – RIdho Allah (MA-TA-HA-RI). Dan kemudian akan berjalan dengan kepatuhan mengikuti tuntunan cahaya MATAHARI, yang juga sejatinya adalah MAta HAti dalam diRI. Tentu saja semua itu dilandasi dengan pondasi Syari’at yang tak perlu diperdebatkan lagi. Akhirnya ”Ridho Allah” itulah yang ingin kita gapai dimana sebagai ”RATU ADIL” pada diri kita yang berkuasa, yaitu RAsa yang saTU dalam mengemban Amanah mengabDI secara Langgeng (istiqomah) kepada Allah. Inilah perjalanan yang harus kita tempuh di dalam ”Jagad Cilik” kita sebagai manusia untuk menggapai RA itu. Sedangkan untuk ”Jagad Gede” negeri kita pun sejatinya berorientasi sama akhir yang dituju adalah RA (Ridho Allah), yaitu melalui simbol-simbol BendeRA – NagaRA – NusantaRA. Dimaksudkan bahwa segala sesuatu yang diupayakan dan kemudian mendapatkan Ridho Allah akan selalu membuahkan kemanfaatan, keselamatan, kesejahteraan dan kebahagiaan.

Nah saat ini, kembali kita dihadapkan kepada pilihan di dalam menentukan calon pemimpin negeri yang kita cintai ini untuk masa 2014 – 2019. Manakah diantara kedua pasangan itu yang sejati secara HAKekat agar tidak lagi terjebak tipu daya pencitraannya ? Tentu selain ungkapan di atas, penulis perlu mengungkapkan isyarah ketika gunung Merapi meletus di bulan Nopember 2010, yaitu dengan adanya fenomena awan berbentuk kepala Petruk. Itu hakekatnya adalah isyarah yang memberikan merapipetrukgambaran bahwa kita semua akan dihadapkan dengan kemungkinan munculnya fenomena “PETRUK JADI RATU”. Dan isyarah itu sejatinya berkaitan dengan perlambang fenomena mbah Marijan dimana saat pertama kali  gunung Merapi meletus di bulan Mei 2006 membuat namanya melambung bak pahlawan / selebritis. Namun pada letusan berikutnya di bulan Oktober 2010 pada akhirnya mengakibatkan mbah Marijan sendiri menjadi salah satu korban yang ditemukan tewas mengenaskan di dalam rumahnya diantara banyak korban lainnya di desa Cangkringan utamanya. Di dalam cerita pewayangan (carangan) “Petruk Jadi Ratu”, singkat cerita pada akhirnya yang mampu mengetahui dan menghentikan penyamaran Petruk sebagai Prabu Bel Gedhuwel Beh adalah Semar. Maka ada istilah bahasa jawa kasar dengan ungkapan : “Wal keduwal kabeh, singgat kadal diuntal”, yang maknanya sebagai umpatan bahwa “semuanya penipu/pembohong semua sampai-sampai belatung kadal pun dimakan”. Silahkan bertanya kepada Eyang Google bagaimana isi cerita “Petruk Dadi Ratu atau Petruk Jadi Ratu” untuk kemudian menjadi perenungan bagi pembaca semua.

SingNangBangUng-#2a-Cover

Isyarah lain yang mungkin lepas dari perhatian kita semua adalah fenomena dibersihkannya Tugu MONAS pada tgl 5 Mei s/d 18 Mei 2014 di tengah ephoria aktivitas partai-partai mencari mitra koalisi. Sehingga ketika MONAS selesai dibersihkan, barulah kedua pasangan capres/cawapres mendeklarasikan pencalonannya masing-masing bersama partai koalisinya. Jadi daya-daya yang ada mengisyarahkan bahwa semuanya saja harus menghormati MONAS dahulu hingga tuntas dibersihkan untuk menyongsong Kebangkitan Nasional 20 Mei 2014. Maka kalau kita melihat peristiwa pendeklarasian semua capres/cawapres beberapa waktu yang lalu sangat sarat dengan nuansa aura Soekarno. Namun semua ini bukan kebetulan, karena dari dimensi spiritual daya-daya beliau sudah mulai “turun”. Persoalannya sama saja, kita dihadapkan kepada pertanyaan manakah diantaranya yang sejati ? Dalam konteks ini penulis hanya mampu mengungkapkan bahwa jika seandainya mereka dan semua saja memahami Soekarno, tentu akan tahu bahwa MONAS bukan hanya sekedar monumen. Namun lebih dalam daripada itu sejatinya MONAS adalah sebuah Simbol/Sandi Utama Nusantara (SUN) yang sarat dengan sandi rumit yang didirikan Soekarno dengan segala maksud dan harapannya untuk negeri ini yang belum sempat beliau ungkapkan kepada siapapun. Hal ini sangat logis karena ketika pembangunan Tugu MONAS belum selesai tanpa diduga muncullah peristiwa Gestapu tahun 1965. MONAS adalah sandi Tampak Siring bagi Nusantara. Jadi sesungguhnya bagi siapa saja yang merusak atau mengganti simbol-simbol di seputaran MONAS termasuk bangunan bersejarah di seputarnya bahkan nama jalannya sekalipun, bisa dipastikan bahwa mereka sangat tidak memahami maksud Soekarno. Apakah kita semua tersadar bahwa saat ini ada pihak-pihak yang sedang ingin menghancurkan MONAS sebagai sebuah simbol yang memiliki Hakekat sangat tinggi ? Buktinya di seputaran taman MONAS telah didirikan banyak patung Bunga Bangkai. Hal itu adalah sebagai simbol bagi upaya pembangkaian dan pembusukan MONAS. Dan apakah kita pernah berpikir dan merenung, begitu MONAS dibersihkan serta merta ramailah pemberitaan merebaknya Virus MERS dari tanah Arab yang berasal dari Onta. Tentu ini adalah isyarah yang sangat berkaitan erat dengan apa yang telah penulis ungkapkan di atas bila dijabarkan. Penulis tidak mampu berkata lebih di dalam blog ini. Semoga apa yang penulis ungkapkan kali ini membawa manfaat dan menjadi perenungan bagi kita semua di dalam upaya kita bersama menggapai Ridho Allah.

Salam MERAH PUTIH..

JAYALAH NEGERIKU, TEGAKLAH GARUDAKU,

JAYALAH NUSANTARAKU…

monas

QS 13 (Ar Ra’d) : 18 -25
18. Bagi orang-orang yang memenuhi seruan Tuhannya, (disediakan) pembalasan yang baik. Dan orang-orang yang tidak memenuhi seruan Tuhan, sekiranya mereka mempunyai semua (kekayaan) yang ada di bumi dan (ditambah) sebanyak isi bumi itu lagi besertanya, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan kekayaan itu. Orang-orang itu disediakan baginya hisab yang buruk dan tempat kediaman mereka ialah Jahanam dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman.
19. Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran,
20. (yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian,
21. dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.
22. Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik),
23. (yaitu) syurga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu;
24. (sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.
25. Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam).

Semarang, Jum’at Pahing (Dungulan) – 23 Mei 2014

Published in: on Mei 23, 2014 at 3:00 am  Komentar Dinonaktifkan pada Sasmita Negeri “PRABOWO vs JOKOWI”  
%d blogger menyukai ini: